Rumah mode mewah Cartier tengah menghadapi gelombang kritik setelah menolak permintaan penyanyi asal India, Diljit Dosanjh, untuk meminjamkan kalung Maharaja Patiala untuk dikenakan di Met Gala 2023. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan tentang standar ganda dan dugaan praktik diskriminatif dalam industri mode kelas atas.
Padahal, tiga tahun sebelumnya, kalung bersejarah tersebut pernah dipinjamkan kepada Emma Chamberlain, seorang YouTuber Amerika Serikat. Perbedaan perlakuan ini memicu kecaman luas di media sosial, menuduh Cartier bersikap rasis dan tidak sensitif terhadap warisan budaya.
Kalung Maharaja Patiala: Sejarah dan Nilai
Kalung Maharaja Patiala, dibuat pada tahun 1928 atas pesanan Sir Bhupinder Singh, Maharaja Patiala, merupakan salah satu perhiasan paling spektakuler yang pernah dibuat oleh Cartier. Berat totalnya mencapai 1.000 karat, memperlihatkan kemewahan dan kekayaan luar biasa.
Berlian kuning De Beers seberat 234,6 karat menjadi pusat perhatian kalung tersebut, dikenal sebagai berlian potong terbesar ketujuh di dunia. Kehilangan dan penemuan kembali sebagian kalung ini menambah intrik sejarahnya yang panjang.
Pada tahun 1948, kalung tersebut dilaporkan hilang secara misterius. Beberapa bagiannya ditemukan kembali beberapa dekade kemudian, dengan berlian utama muncul dalam lelang Sotheby’s pada tahun 1982.
Bagian lain ditemukan 16 tahun kemudian di sebuah toko barang antik di London, meskipun semua berlian aslinya telah hilang. Cartier kemudian membeli kembali bagian-bagian tersebut dan mengganti batu-batunya dengan replika.
Kontroversi Met Gala 2023: Penolakan Terhadap Diljit Dosanjh
Diljit Dosanjh, penyanyi terkenal asal India, berniat mengenakan kalung Maharaja Patiala di Met Gala 2023 untuk melengkapi penampilannya yang bertema kerajaan India. Namun, permintaannya ditolak oleh Cartier.
Cartier beralasan bahwa kalung tersebut sedang dipamerkan di museum. Alasan ini dinilai tidak memuaskan banyak pihak, mengingat kalung tersebut pernah dipinjamkan kepada Emma Chamberlain pada Met Gala 2022.
Perbedaan perlakuan ini memicu kemarahan dan kecaman luas di media sosial. Banyak yang menuduh Cartier bersikap rasis dan memberikan perlakuan istimewa kepada influencer kulit putih.
Reaksi Publik dan Implikasi Lebih Luas
Tagar #CartierIsRacist menjadi trending di media sosial sebagai respons atas penolakan tersebut. Banyak pengguna media sosial mengecam tindakan Cartier yang dianggap diskriminatif dan tidak peka terhadap budaya.
Ironisnya, tema Met Gala 2023, “Karl Lagerfeld: A Line of Beauty,” sebenarnya mengundang eksplorasi kreativitas dan keunikan. Penolakan Cartier terhadap Diljit Dosanjh terlihat bertolak belakang dengan semangat tema tersebut.
Kejadian ini menyoroti isu representasi dan inklusi dalam industri mode mewah. Peristiwa ini memicu perdebatan penting tentang bagaimana merek-merek besar harus berinteraksi dengan warisan budaya dan beragam representasi budaya.
Meskipun tidak mengenakan kalung Maharaja Patiala, Diljit Dosanjh tetap tampil menawan di Met Gala 2023 dengan busana rancangan Prabal Gurung dan perhiasan dari desainer India, Golecha, yang terinspirasi dari koleksi Maharaja Patiala. Keanggunannya tetap mencuri perhatian, terlepas dari kontroversi yang terjadi.
Insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya pertanggungjawaban sosial dan representasi yang inklusif dalam industri mode. Kejadian ini diharapkan dapat mendorong perubahan positif dalam bagaimana merek-merek mewah berinteraksi dengan individu dan komunitas dari berbagai latar belakang.
Lebih lanjut, kontroversi ini mengungkapkan betapa pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam praktik peminjaman barang-barang bersejarah yang bernilai tinggi. Mekanisme yang adil dan tidak diskriminatif perlu dipertimbangkan untuk memastikan akses yang setara bagi semua individu yang berhak.




