Laut Aral, dulunya danau terbesar keempat di dunia, kini mengalami nasib tragis. Penggunaan air sungai yang berlebihan untuk irigasi sejak tahun 1960-an telah menyebabkan kekeringan parah dan menyusutnya luas danau secara drastis. Namun, sebuah penelitian terbaru mengungkapkan fenomena tak terduga: dasar laut yang kering justru mengalami pengangkatan.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience pada April 2025 ini mengungkap bahwa pengangkatan daratan tersebut disebabkan oleh reaksi mantel bumi terhadap hilangnya beban air yang sangat besar. Ini merupakan dampak tidak langsung, namun signifikan, dari bencana lingkungan yang disebut “Chernobyl yang tenang”.
Penurunan Dramatis Laut Aral dan Dampaknya
Selama 80 tahun terakhir, Laut Aral telah kehilangan sekitar 1,1 miliar ton air. Jumlah ini setara dengan 150 Piramida Agung Giza, menunjukkan skala bencana lingkungan yang luar biasa.
Hilangnya massa air yang begitu besar awalnya menyebabkan kerak bumi sedikit terpantul, seperti pegas yang dilepaskan. Namun, proses pengangkatan daratan ternyata berlanjut hingga beberapa dekade setelah air menguap, bahkan meluas jauh melampaui garis pantai aslinya.
Kekeringan ini telah menyebabkan dampak ekologis dan ekonomi yang luas di wilayah Uzbekistan dan Kazakhstan, termasuk penggurunan dan kekeringan yang lebih parah. Kondisi ini telah berdampak negatif terhadap kehidupan masyarakat sekitar, termasuk mata pencaharian nelayan dan petani.
Pengangkatan Daratan Akibat Reaksi Mantel Bumi
Para ilmuwan menggunakan teknik penginderaan jarak jauh satelit, yaitu radar apertur sintetis interferometrik (InSAR), untuk mendeteksi pengangkatan daratan di sekitar Laut Aral. Teknik ini mampu mendeteksi perubahan halus pada permukaan bumi, termasuk deformasi yang disebabkan oleh pengangkatan atau penurunan tanah.
Pengukuran InSAR antara tahun 2016 hingga 2020 menunjukkan pengangkatan daratan hingga radius 500 kilometer dari pusat Laut Aral. Pengangkatan ini terjadi dengan kecepatan sekitar 7 milimeter per tahun.
Fenomena ini terjadi karena mantel bumi, lapisan batuan kental di bawah kerak bumi, bereaksi terhadap hilangnya beban air yang sangat besar. Mantel bumi “mengalir” untuk menggantikan material yang telah dipindahkan oleh berat air dan batuan di permukaan.
Analogi dengan Zaman Es
Proses ini mirip dengan yang terjadi di Skandinavia setelah Zaman Es. Saat lapisan es mencair, mantel bumi mengalir untuk mengisi ruang yang ditinggalkan oleh es yang berat tersebut.
Laut Aral, meskipun tidak terlalu dalam, memiliki luas yang sangat besar sehingga beratnya dapat dirasakan di kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer di dalam bumi. Lapisan batuan terluar yang kuat tidak dapat menahan beban air tersebut tanpa sedikit tenggelam ke dalam batuan yang lebih panas dan lebih lemah di bawahnya.
Kesimpulan dan Prospek Masa Depan
Pengangkatan wilayah Laut Aral, yang mencapai total 40 mm antara 2016 dan 2020, diperkirakan akan berlanjut selama beberapa dekade mendatang. Penelitian ini menyoroti bagaimana aktivitas manusia dapat memengaruhi dinamika bumi bagian dalam.
Laut Aral kini hanya tinggal bayangan dari kejayaannya di masa lalu. Kekeringan yang ekstrem telah mengakibatkan salah satu dari dua danau yang terbentuk pada tahun 1986 terpecah lagi menjadi dua, dan pada tahun 2020, salah satu dari tiga cekungan yang tersisa menghilang sepenuhnya.
Studi ini memberikan gambaran yang jelas tentang dampak jangka panjang dari perubahan lingkungan yang disebabkan oleh manusia. Pengangkatan daratan di bekas wilayah Laut Aral menjadi bukti nyata betapa besarnya pengaruh aktivitas manusia terhadap sistem bumi, sebuah fenomena yang patut menjadi perhatian serius bagi upaya konservasi lingkungan di masa depan.





