Klara Livia, seorang mantan karyawan startup teknologi, telah mengalami dua kali pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun. Pengalaman pahit ini, justru menjadi pelajaran berharga yang mengubah perspektifnya terhadap dunia kerja. Ia memanfaatkan pengalaman tersebut untuk meningkatkan keterampilan dan strategi kariernya. Kisah Klara ini memberikan wawasan berharga bagi para pekerja di era ketidakpastian ekonomi saat ini.
Pengalaman pertama Klara datang pada Juni 2022. Perusahaan tempatnya bekerja melakukan rebranding dan mengubah arah bisnis.
PHK Pertama: Sebuah Kejutan di Awal Karier
Klara bergabung dengan startup tersebut pada Oktober 2021. Hanya dalam waktu delapan bulan, ia menerima kabar PHK karena perusahaan menghentikan produk yang sedang ia kerjakan.
Perubahan arah bisnis perusahaan ini mengakibatkan pemangkasan karyawan, termasuk Klara. Ia mengaku terkejut namun berusaha menerima kenyataan tersebut.
PHK Kedua: Belajar dari Tanda-Tanda yang Terlihat
PHK kedua terjadi pada Agustus 2024. Kali ini, Klara mengaku sudah melihat beberapa tanda-tanda sebelum PHK diumumkan.
Ia sudah bekerja di startup tersebut selama kurang lebih dua tahun. Pengalaman PHK sebelumnya telah membuatnya lebih peka terhadap situasi perusahaan.
Berbeda dari PHK pertama yang mengejutkan, PHK kedua ini memberikan Klara waktu untuk mempersiapkan diri secara mental dan finansial. Ia sudah mulai mempersiapkan rencana alternatif.
Mempelajari Tanda-Tanda PHK
Ada beberapa indikator yang perlu diwaspadai sebagai tanda potensi PHK. Klara menyarankan untuk memperhatikan perubahan strategi perusahaan, perlambatan kinerja, hingga pengurangan anggaran.
Memantau isu-isu internal perusahaan juga penting. Komunikasi yang kurang terbuka dari manajemen bisa menjadi indikasi adanya masalah serius.
Bangkit dari PHK: Strategi Menghadapi Ketidakpastian
Dua kali PHK mengajarkan Klara untuk tidak bergantung pada satu sumber penghasilan. Ia memiliki pekerjaan sampingan sebagai freelance writer.
Pekerjaan freelance ini menjadi penyangga finansial saat ia mengalami PHK. Klara menekankan pentingnya memiliki sumber pendapatan tambahan untuk menghadapi situasi tak terduga.
Selain itu, Klara juga belajar untuk meningkatkan nilai dirinya di tempat kerja. Ia menyadari bahwa memberikan performa terbaik saja tidak cukup.
Membangun Nilai Diri di Tempat Kerja
Klara menekankan pentingnya memiliki keahlian yang bernilai tinggi dan terus mengembangkan diri. Ia juga fokus untuk membangun jaringan profesional yang kuat.
Keterampilan yang relevan dengan industri dan sikap proaktif dalam bekerja sangat dibutuhkan. Membangun relasi yang baik dengan rekan kerja dan atasan juga penting.
Keterampilan komunikasi yang baik, kemampuan memecahkan masalah, dan kreativitas adalah beberapa contoh nilai tambah yang dicari oleh perusahaan. Dengan memiliki nilai tambah tersebut, karyawan menjadi aset yang berharga bagi perusahaan.
Pengalaman Klara Livia membuktikan bahwa PHK tidak selalu menjadi akhir dari segalanya. Dengan strategi yang tepat dan mental yang kuat, seseorang dapat bangkit dan meraih kesuksesan kariernya. Kesiapan mental dan finansial, serta diversifikasi sumber penghasilan menjadi kunci untuk menghadapi ketidakpastian dunia kerja. Mempelajari tanda-tanda PHK dan meningkatkan nilai diri juga akan memperkuat posisi karyawan di tengah persaingan yang ketat.





