Di era modern ini, penampilan fisik seringkali menjadi faktor yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk karier. Istilah “pretty privilege” menggambarkan fenomena di mana individu yang dianggap menarik secara fisik mendapatkan keuntungan lebih dibandingkan mereka yang kurang menarik. Sebuah survei terbaru mengungkap fakta mengejutkan tentang dampak “pretty privilege” terhadap penghasilan.
Penelitian yang dilakukan oleh Standout-CV, sebuah perusahaan penyedia jasa pembuatan resume virtual, mengungkapkan adanya korelasi signifikan antara daya tarik fisik dan pendapatan. Temuan ini menimbulkan pertanyaan penting tentang keadilan dan kesetaraan di dunia kerja.
Dampak “Pretty Privilege” terhadap Penghasilan
Survei Standout-CV melibatkan lebih dari seribu responden di Amerika Serikat berusia di atas 18 tahun. Para peserta diminta menilai daya tarik fisik mereka sendiri dalam skala 1 hingga 10.
Hasilnya menunjukkan perbedaan penghasilan yang signifikan antara mereka yang menilai diri mereka menarik dan mereka yang tidak. Responden yang menganggap diri mereka menarik rata-rata menghasilkan US$19.945 (sekitar Rp 336 juta) lebih banyak per tahun.
Bahkan, banyak manajer dan CEO yang mengakui bahwa penampilan fisik mereka turut berperan dalam mencapai posisi puncak karir. Ini menggarisbawahi peran “pretty privilege” dalam jenjang karier.
Tekanan Sosial dan Pengeluaran untuk Penampilan
Temuan survei ini juga mengungkap dampak psikologis dari “pretty privilege”. Sebanyak 46% responden yang menilai diri mereka kurang menarik (skala 1-3) menyatakan bahwa penampilan mereka berdampak negatif pada karier.
Tekanan untuk selalu tampil menarik di tempat kerja menyebabkan banyak profesional mengalokasikan sebagian penghasilan mereka untuk produk kecantikan dan fashion. Hal ini menunjukkan adanya beban finansial tambahan yang harus ditanggung.
Survei tersebut menemukan bahwa 78,86% responden mengaku sering atau kadang-kadang mengeluarkan uang untuk produk-produk kecantikan dan pakaian untuk memenuhi standar penampilan di industri mereka.
Korelasi Daya Tarik dan Posisi Kepemimpinan
Penelitian Standout-CV juga menemukan korelasi yang menarik antara persepsi daya tarik dan posisi kepemimpinan. CEO dua kali lebih mungkin menilai diri mereka sangat menarik dibandingkan karyawan biasa.
Peneliti menyimpulkan bahwa ada korelasi yang jelas antara kekuasaan dan daya tarik yang dirasakan. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar kemungkinan mereka menganggap diri mereka menarik.
Temuan ini menunjukkan adanya dinamika kompleks antara penampilan, kepercayaan diri, dan kesuksesan karier. Namun, penting untuk diingat bahwa penelitian ini hanya menunjukkan korelasi, bukan kausalitas.
Kesimpulannya, meskipun survei ini menunjukkan adanya “pretty privilege” yang signifikan di dunia kerja, perlu diingat bahwa kesuksesan karier adalah hasil dari berbagai faktor kompleks. Keterampilan, pengalaman, dan kerja keras tetap menjadi faktor penentu utama. Namun, penelitian ini menyoroti pentingnya kesadaran akan bias tak terlihat yang dapat memengaruhi kesempatan karier dan mendorong diskusi lebih lanjut tentang keadilan dan kesetaraan di tempat kerja.
Penting bagi perusahaan untuk menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan adil, di mana penilaian kinerja didasarkan pada kemampuan dan prestasi, bukan semata-mata penampilan fisik. Hanya dengan demikian, kesempatan karier yang setara dapat terwujud bagi semua individu, terlepas dari daya tarik fisik mereka.




