Harga mobil baru yang melambung tinggi membuat daya beli masyarakat tergerus. Konsumen kelas menengah ke bawah pun beralih ke pasar mobil bekas sebagai alternatif yang lebih terjangkau. Kondisi ini mencerminkan pergeseran signifikan dalam industri otomotif Indonesia di tahun 2025.
Lonjakan harga, yang dipicu oleh berbagai faktor ekonomi global dan domestik, telah mengubah lanskap pasar. Akibatnya, penjualan mobil baru anjlok sementara pasar mobil bekas justru mengalami peningkatan pesat.
Harga Mobil Baru Meroket, Daya Beli Menurun
Inflasi yang tinggi, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), dan harga kebutuhan pokok yang merangkak naik secara bersamaan telah menekan daya beli masyarakat.
Kondisi ini membuat pembelian mobil baru menjadi beban finansial yang berat bagi sebagian besar masyarakat. Bahkan mobil murah ramah lingkungan (LCGC) pun ikut terdampak.
Sebagai contoh, harga Toyota Calya kini mencapai Rp169,9 juta, Toyota Agya menembus Rp173,2 juta, dan Daihatsu Ayla serta Sigra juga mengalami kenaikan harga yang signifikan dibanding tahun lalu.
Pasar Mobil Bekas Bergairah, Penjualan Meningkat Pesat
Berbanding terbalik dengan lesunya penjualan mobil baru, pasar mobil bekas justru menunjukkan tren positif yang mencolok.
PT JBA Indonesia mencatat peningkatan penjualan mobil bekas hingga 13 persen pada kuartal pertama 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Hal ini menunjukkan pergeseran preferensi konsumen yang mencari alternatif yang lebih ekonomis di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memperkuat tren ini. Penjualan grosir mobil baru turun 4,7 persen menjadi 205.160 unit, sementara penjualan ritel melorot 8,9 persen menjadi 210.483 unit.
Faktor Global dan Domestik Mempengaruhi Industri Otomotif
Selain faktor ekonomi domestik, tekanan dari pasar global juga turut berperan dalam situasi ini.
Kebijakan tarif impor baru dari Amerika Serikat dan dampak perang dagang internasional turut meningkatkan biaya produksi dan menekan industri otomotif secara keseluruhan.
Hal ini menyebabkan harga jual mobil baru semakin tinggi, semakin memperparah situasi bagi konsumen.
Yannes Martinus Pasaribu, pakar otomotif ITB, mengatakan, “Kita berharap badai ini cepat berlalu. Pemulihan ekonomi akan mendorong masyarakat kembali bersemangat membeli kendaraan baru.”
Optimisme justru terlihat di pasar mobil bekas. Seorang pelaku lelang otomotif bahkan menargetkan penjualan mobil bekas mencapai satu juta unit di tahun ini.
Jika tren ini berlanjut, mobil bekas berpotensi menjadi kendaraan dominan di jalanan Indonesia dalam beberapa waktu ke depan. Hal ini akan bergantung pada kecepatan pemulihan ekonomi dan kemampuan masyarakat untuk kembali meningkatkan daya belinya.
Situasi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri otomotif. Para pemain di sektor otomotif perlu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan perilaku konsumen dan dinamika pasar yang terus berkembang.
Pergeseran ini juga menuntut pemerintah untuk merumuskan kebijakan yang tepat guna mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya beli masyarakat, sehingga pasar otomotif dapat kembali bergairah dan seimbang.





