Di era digital saat ini, penyebaran hoaks menjadi tantangan besar. Tokoh-tokoh publik, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron, seringkali menjadi sasaran penyebaran informasi palsu. Berbagai hoaks telah beredar luas, mulai dari video yang diedit hingga klaim-klaim yang sama sekali tidak berdasar. Artikel ini akan membahas beberapa contoh hoaks yang dikaitkan dengan Presiden Macron.
Perlu diingat bahwa verifikasi informasi sangat penting dalam era informasi yang serba cepat ini. Jangan mudah percaya pada informasi yang belum diverifikasi kebenarannya. Selalu cek sumber informasi dan bandingkan dengan beberapa sumber terpercaya sebelum menyebarkannya.
Klarifikasi Istana Terkait Prabowo dan Macron
Beredar kabar di media sosial pada 31 Mei 2025 yang menyebutkan Presiden Prabowo Subianto meminum bir saat menjamu Presiden Macron di Istana Kepresidenan. Kabar ini disebarkan melalui sebuah video berdurasi satu menit yang memperlihatkan keduanya bersulang.
Akun Facebook yang menyebarkan video tersebut menuliskan narasi yang mempertanyakan konsistensi sikap Prabowo. Video tersebut telah ditonton ratusan kali dan menuai berbagai reaksi dari warganet.
Namun, klaim tersebut telah diverifikasi dan dinyatakan tidak benar. Klarifikasi resmi dari Istana telah dikeluarkan untuk meluruskan kesalahpahaman ini.
Hoaks Macron Menikahi Ayahnya yang Diklaim Transgender
Pada 28 Februari 2025, sebuah unggahan di Facebook menyebarkan kabar bohong bahwa Presiden Macron menikahi ayahnya sendiri yang diklaim sebagai transgender. Unggahan tersebut menampilkan foto Macron dan istrinya, Brigitte Macron.
Narasi dalam unggahan tersebut berisi klaim yang tidak berdasar dan menyesatkan. Unggahan ini telah dibagikan dan mendapatkan komentar dari sejumlah pengguna Facebook.
Informasi ini telah diverifikasi dan dinyatakan sebagai hoaks. Fakta sebenarnya sangat berbeda dengan klaim yang beredar di media sosial.
Video Erdogan dan Macron: Sebuah Kesalahpahaman
Sebuah video beredar pada 28 November 2020 yang mengklaim bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menolak jabat tangan Macron karena karikatur Nabi Muhammad SAW. Video berdurasi delapan detik tersebut memperlihatkan Erdogan bersalaman dengan Kanselir Jerman dan Presiden Rusia, tetapi tidak dengan Macron.
Akun Facebook yang menyebarkan video ini mengaitkannya dengan kontroversi karikatur Nabi Muhammad SAW. Video ini telah ditonton dan dikomentari sejumlah warganet.
Setelah diverifikasi, klaim tersebut terbukti salah. Video tersebut telah dipotong dan di luar konteks, sehingga menimbulkan kesalahpahaman.
Ketiga contoh hoaks di atas menunjukkan betapa pentingnya untuk selalu melakukan verifikasi informasi sebelum mempercayainya dan menyebarkannya lebih lanjut. Penyebaran informasi yang tidak benar dapat berdampak negatif bagi citra seseorang, bahkan dapat menimbulkan perpecahan di masyarakat. Mari bersama-sama melawan penyebaran hoaks dengan bijak menyaring informasi yang kita terima.
Liputan6.com, sebagai bagian dari International Fact-Checking Network (IFCN), berkomitmen untuk melawan penyebaran hoaks dan memberikan literasi media kepada masyarakat. Tim Cek Fakta Liputan6.com terus berupaya untuk memverifikasi informasi yang beredar dan memberikan penjelasan yang akurat kepada publik.





