Ibnu Taimiyah, nama yang mungkin sudah tak asing bagi sebagian kalangan, merupakan ulama dan filsuf berpengaruh dari abad ke-13. Ketegasannya dalam menegakkan syariat Islam sering membuatnya berseberangan dengan penguasa kala itu, bahkan membuatnya beberapa kali mendekam di penjara. Namun, pengaruh pemikirannya dalam dunia Islam tetap tak terbantahkan hingga saat ini.
Ia bukan hanya seorang ulama yang berilmu luas, tetapi juga sosok yang berani melawan ketidakadilan dan berjuang membela kebenaran. Kehidupannya yang penuh dinamika, diwarnai konfrontasi dengan kekuatan Mongol dan perdebatan sengit dengan berbagai aliran pemikiran, menjadikannya figur yang kompleks dan menarik untuk dikaji.
Kehidupan Awal dan Pendidikan Ibnu Taimiyah
Ibnu Taimiyah, bernama lengkap Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam, lahir di Harran pada 10 Rabi’ul Awwal 661 H. Masa kecilnya diwarnai konflik Mongol yang mengguncang dunia Islam.
Keluarga Ibnu Taimiyah terusir dari Harran akibat invasi Mongol dan akhirnya menetap di Damaskus. Di sanalah, di lingkungan yang kaya akan ilmu pengetahuan, ia tumbuh dan berkembang.
Pendidikannya didapat dari lingkungan keluarga yang ulama. Di usia muda, yaitu 19 tahun, Ibnu Taimiyah telah menjadi guru besar hadits di Damaskus, menggantikan posisi ayahnya yang telah meninggal dunia.
Kontribusi Ibnu Taimiyah dalam Memelihara Kemurnian Aqidah
Ibnu Taimiyah dikenal sebagai ulama yang mendalam pengetahuannya di berbagai bidang ilmu. Namun, ia sangat fokus pada upaya menjaga kemurnian aqidah Islam.
Ia melihat ancaman terhadap akidah Islam datang dari berbagai arah, seperti teologi Mu’tazilah, mistisisme yang menyimpang, dan berbagai aliran sesat lainnya.
Dengan tajam, Ibnu Taimiyah mengkritik berbagai penyimpangan akidah, termasuk aliran Ahmadiyyah, Kisrawaniyyah, Rafidhah, dan Mu’tazilah. Ia menekankan pentingnya kembali pada pemahaman salafus shalih.
Meskipun cerdas dan berakal, Ibnu Taimiyah tidak menempatkan akal di atas Al-Quran dan Sunnah. Ia senantiasa merujuk pada pemahaman para sahabat, tabiin, dan tabi’ut tabiin.
Metode beragama yang ia anut dikenal sebagai “manhaj salaf,” yang menekankan pentingnya mengikuti pemahaman para generasi awal Islam. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan generasi terbaik umat Islam adalah pada zaman beliau dan generasi sesudahnya.
Peran Ibnu Taimiyah dalam Jihad dan Perlawanan terhadap Mongol
Ibnu Taimiyah bukan hanya ulama yang berilmu, tetapi juga memiliki jiwa pejuang. Ia berperan penting dalam melawan invasi Mongol di Timur Tengah.
Ia melihat kelemahan Mongol dari dalam, yaitu kesenangan hidup yang berlebihan telah membuat mereka rapuh. Ia kemudian memotivasi umat Islam untuk berjihad melawan Mongol.
Perannya dalam perang Shaqhad, misalnya, menunjukkan keberanian dan strategi briliannya. Ia mampu menggerakkan semangat juang umat Islam yang kala itu dilanda rasa takut.
Ibnu Taimiyah merupakan perpaduan sempurna antara ilmu, amal, keberanian, dan zuhud. Ia tidak memisahkan antara ilmu dan amal dalam hidupnya.
Ulama besar seperti al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi memuji Ibnu Taimiyah sebagai sosok yang luas ilmunya, cerdas, zuhud, dan selalu membela kebenaran. Pujian ini menggambarkan betapa besar pengaruh dan jasa-jasanya bagi Islam.
Wafat pada 20 Dzulqa’dah 728 H, Ibnu Taimiyah meninggalkan warisan pemikiran yang begitu kaya dan hingga kini masih relevan. Pemikirannya tentang aqidah, fiqih, dan berbagai aspek keislaman lainnya, terus dikaji dan dipelajari oleh para ulama.
Pengaruh Ibnu Taimiyah tidak hanya terbatas pada masa hidupnya. Ia menjadi inspirasi bagi banyak generasi ulama setelahnya dalam konsistensi berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah, dan keberanian membela kebenaran. Ia merupakan teladan dalam menggabungkan ilmu yang luas dengan aksi nyata dalam memperjuangkan Islam.





