Jualan Batik Live, Mas-mas Ganteng Bikin Heboh Wanita

Redaksi

Fenomena “Mas-mas Batik Ganteng” tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Para pria penjual batik ini menarik perhatian warganet, bukan hanya karena produknya, tetapi juga karena paras tampan dan gaya berjualan mereka yang unik di platform TikTok.

Kepopuleran mereka menunjukkan bagaimana media sosial dapat mengangkat individu dan bisnis kecil, sekaligus menjadi bukti kekuatan visual dan personal branding dalam dunia pemasaran online saat ini. Artikel ini akan mengulas lebih dalam kisah sukses dua “Mas-mas Batik Ganteng” yang viral tersebut.

Kisah Farhan: Kesuksesan Tak Terduga dari Live Streaming Batik

Farhan, pria asal Yogyakarta, tak pernah menyangka pekerjaannya sebagai host live streaming di TikTok akan membawanya meraih popularitas.

Baru dua bulan bergabung dengan 72 Batik, ia sudah menarik puluhan ribu penonton. Kemampuannya berbicara dengan lembut dan ramah sukses memikat hati para penonton wanita.

Gaya soft spoken-nya dan keramahannya saat berjualan batik menjadi kunci kesuksesannya. Banyak warganet merekam dan mengunggah ulang video live streaming-nya, hingga akhirnya viral.

Kepopuleran tersebut membawanya pada kesempatan endorsement produk. Namun, Farhan memiliki cita-cita lain di luar dunia live streaming dan influencer.

Ia memimpikan profesi sebagai pilot. Walaupun begitu, ia bersyukur atas popularitasnya saat ini yang membuatnya semakin dikenal banyak orang.

Dalam sehari, Farhan mampu menjual hingga 90 baju batik saat live streaming. Ini menjadi bukti betapa efektifnya strategi pemasaran yang ia terapkan.

Tulus Adi Wicaksono: Strategi Unik “Marah-Marah” yang Efektif

Berbeda dengan Farhan, Tulus Adi Wicaksono, penjual batik di Solo, memilih strategi yang unik dan sedikit kontroversial.

Ia dikenal dengan gaya “marah-marah” saat live streaming, mengeluhkan banyaknya gift yang diterimanya.

Meskipun tampak negatif, strategi ini justru efektif dalam menarik perhatian penonton. Pendapatannya dari gift bahkan lebih besar daripada penjualan batiknya.

Ia mengaku penjualan batiknya juga meningkat signifikan berkat popularitasnya di TikTok. Uniknya, Tulus awalnya bercita-cita menjadi guru matematika.

Kini, ia konsisten sebagai penjual batik online dan mampu menjual hingga 200 baju batik per hari saat live streaming. Hal ini menunjukan daya tarik konten yang unik dan tidak terduga.

Fenomena “Mas-mas Batik Ganteng” dan Implikasinya

Kisah Farhan dan Tulus membuktikan potensi besar media sosial dalam mengangkat usaha kecil dan individu.

Personal branding yang kuat, strategi pemasaran yang efektif, dan sedikit kreativitas, menjadi kunci sukses mereka.

Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana konten unik dan berbeda dapat mencuri perhatian di tengah persaingan konten yang ketat di media sosial.

Baik Farhan maupun Tulus menunjukkan bahwa kesuksesan bisa datang dari berbagai jalan, bahkan dari hal-hal yang tidak terduga.

Mereka berhasil memanfaatkan platform digital untuk mencapai tujuan mereka, sekaligus menginspirasi banyak orang untuk berani mengeksplorasi potensi diri.

Ke depan, kita bisa berharap akan muncul lebih banyak lagi kisah sukses serupa, di mana individu-individu kreatif memanfaatkan media sosial untuk mengembangkan bisnis dan mewujudkan impian mereka.

Also Read

Tags

Leave a Comment