Kisah Muhamad Yani, seorang pemuda penjual nasi goreng yang diterima di program S-2 Universitas Harvard, telah menginspirasi banyak orang. Perjalanannya menuju Ivy League tak mudah, dipenuhi tantangan finansial dan penolakan, namun kegigihannya membuahkan hasil yang luar biasa.
Dari berjualan nasi goreng untuk menghidupi keluarga hingga meraih mimpi kuliah di Harvard, Yani membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang bagi kesuksesan. Kisahnya yang viral di media sosial menjadi bukti nyata tentang semangat pantang menyerah.
Perjuangan Panjang Menuju Harvard
Yani memulai perjalanannya dengan mendaftar ke beberapa universitas ternama dunia. Ia pernah ditolak Universitas Columbia, namun tak patah semangat.
Ia kemudian diterima di Universitas Manchester, Inggris, tetapi memilih untuk tidak melanjutkan karena terkendala persyaratan IELTS dan transkrip akademik.
Keberhasilannya diterima di Imperial College London semakin meningkatkan kepercayaan dirinya untuk mencoba universitas lain yang lebih bergengsi.
Gagalnya Yani di tahap substansi LPDP batch pertama tak membuatnya menyerah. Ia mencoba kembali dan akhirnya diterima di tahap kedua, dengan pilihan Harvard, Oxford, dan Columbia.
Tantangan dan Keberhasilan
Persiapan Yani untuk kuliah di Harvard sangat berat. Ia harus mempersiapkan skor IELTS yang tinggi dan berbagai persyaratan lainnya.
Selain itu, Yani juga menghadapi berbagai tantangan ekonomi. Keluarganya sempat mengalami kesulitan ekonomi yang cukup berat, bahkan pernah tidur di jalanan selama sepuluh hari.
Namun, Yani tetap gigih. Ia pernah hampir putus sekolah di tahun 2018 karena ingin membantu perekonomian keluarga.
Selama kuliah S1 di Universitas Udayana, ia juga bekerja sambilan sebagai penjual tahu dan event organizer untuk membiayai pendidikannya dan membantu keluarganya.
Inspirasi bagi Generasi Muda
Penerimaan Yani di Harvard School of Education, program Human Development and Education, disambut antusias oleh warganet. Postingan di akun Instagramnya banjir komentar dukungan dan apresiasi.
Kisah Yani menginspirasi banyak orang, membuktikan bahwa dengan kerja keras, ketekunan, dan pantang menyerah, mimpi setinggi apapun dapat diwujudkan.
Yani sendiri merasa bersyukur atas dukungan yang diterimanya dan berharap kisahnya dapat memotivasi generasi muda untuk berani bermimpi dan mengejar cita-cita.
Saat ini, Yani sedang mengikuti program Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Academic Fellowship di Flagstaff, Arizona, Amerika Serikat. Perjalanan panjangnya menuju Harvard menjadi bukti nyata bahwa kegigihan dan tekad yang kuat dapat mengalahkan segala keterbatasan.
Orang tuanya pun merasa sangat bangga dan memberikan dukungan penuh atas pencapaian luar biasa ini. Kesuksesan Yani menjadi bukti nyata bahwa mimpi dapat terwujud jika dibarengi dengan usaha dan doa.
Lebih dari sekedar kisah sukses, perjalanan Muhamad Yani adalah bukti nyata bahwa tekad dan kerja keras mampu mengalahkan segala rintangan. Ia menjadi inspirasi bagi kita semua untuk berani mengejar mimpi, tak peduli seberat apapun tantangan yang dihadapi. Kisahnya yang menginspirasi ini akan terus dikenang dan memotivasi generasi muda Indonesia untuk terus berjuang dan meraih prestasi.




