Syekh Nawawi Al-Bantani, ulama besar asal Banten, namanya telah dikenal luas di dunia Islam. Kehidupan dan karya-karyanya hingga kini masih dikaji dan menjadi rujukan penting bagi para santri dan akademisi. Lebih dari sekadar ulama, beliau merupakan sosok inspiratif yang menunjukkan konsistensi dalam menuntut ilmu dan memperjuangkan nilai-nilai agama.
Siapa sebenarnya Syekh Nawawi Al-Bantani? Bagaimana perjalanan hidupnya hingga menghasilkan karya-karya monumental? Artikel ini akan mengupas tuntas biografi dan kontribusi beliau bagi khazanah keilmuan Islam.
Kehidupan Awal dan Pendidikan Syekh Nawawi Al-Bantani
Syekh Nawawi Al-Bantani, bernama lengkap Abu Abd al-Mu’ti Muhammad Nawawi ibn Umar at-Tanari al-Jawi al-Bantani, lahir di Tanara, Serang, Banten pada 1815 M. Beliau berasal dari keluarga yang religius dan berdarah bangsawan Kesultanan Banten.
Ayahnya, KH. Umar bin Arabi, seorang ulama terpandang, berperan besar dalam membentuk karakter dan kecerdasan Nawawi sejak dini. Pendidikan formal beliau dimulai sejak usia 5 tahun di bawah bimbingan sang ayah.
Pada usia 8 tahun, beliau mendalami ilmu agama di pondok pesantren. Beliau berguru pada Haji Sahal, ulama terkemuka di Banten, kemudian melanjutkan pendidikannya kepada Raden Haji Yusuf di Purwakarta dan Cikampek, Jawa Barat.
Di usia 13 tahun, Nawawi kembali ke Banten bersama saudara-saudaranya. Namun, situasi politik yang tidak kondusif di Jawa mendorongnya hijrah ke Makkah pada usia 15 tahun. Di sana, beliau menunaikan ibadah haji dan menetap selama tiga tahun untuk memperdalam ilmu.
Setelah kembali dari Makkah, beliau sempat belajar kepada seorang ulama di Karawang dan meneruskan perjuangan ayahnya dalam mengelola pesantren. Namun, karena tekanan dari pemerintah Hindia Belanda yang beberapa kali menawarkan kerja sama politik, yang selalu ditolaknya, beliau kembali ke Makkah.
Perjalanan Ilmiah dan Pengajaran di Makkah
Di Makkah, Syekh Nawawi Al-Bantani belajar dari berbagai ulama terkemuka, baik dari Nusantara maupun mancanegara. Beberapa gurunya yang terkenal antara lain Syekh Sayyid Ahmad an-Narawi, Syekh Sayyid Ahmad Dimyati, dan Syekh Yusuf Sambulaweni dari Mesir.
Sekitar tahun 1860-1870 M, beliau mengajar di Masjidil Haram, satu-satunya perguruan tinggi di Makkah saat itu. Beliau dikenal sebagai pengajar yang handal dan mampu menjelaskan materi dengan jelas dan mendalam.
Setelah tahun 1870 M, beliau lebih fokus menulis kitab sambil mengajar di rumahnya. Produktifitasnya luar biasa; beliau menghasilkan puluhan kitab yang meliputi berbagai bidang keilmuan Islam, seperti tafsir, fikih, tauhid, ushuluddin, tasawuf, sirah nabawiyah, akhlak, bahasa Arab, dan hadis.
Syekh Nawawi wafat pada 25 Syawal 1314 H/1897 M di Makkah dalam usia 84 tahun saat tengah menulis kitab Manhaj at-Thalibin. Beliau dimakamkan di Pemakaman Ma’la, Makkah, dekat makam Ibn Hajar dan Asma bin Abu Bakar ash-Shiddiq.
Karya Monumental: Tanqih al-Qaul al-Hatsis
Di antara karya-karya beliau yang paling terkenal adalah kitab *Tanqih al-Qaul al-Hatsis*. Kitab ini merupakan syarah (penjelasan) dari kitab *Lubab al-Hadis* karya Syekh Jalaluddin as-Suyuthi.
*Tanqih al-Qaul al-Hatsis* menjadi rujukan penting bagi para akademisi dan santri di seluruh dunia, termasuk di pesantren-pesantren di Nusantara. Nama kitab ini sendiri sarat makna: “Tanqih” berarti mengkritik atau memberi ulasan, “al-Qaul” berarti perkataan, dan “al-Hatsis” berarti anjuran atau dorongan.
Dengan demikian, *Tanqih al-Qaul al-Hatsis* dapat diartikan sebagai anjuran untuk memperbaiki ucapan atau dorongan untuk meningkatkan kualitas perkataan. Kitab ini membahas 40 pasal terkait keutamaan-keutamaan hadis.
Warisan ilmu dan keteladanan Syekh Nawawi Al-Bantani terus menginspirasi hingga kini. Dedikasi dan konsistensinya dalam menuntut dan menyebarkan ilmu agama menjadikannya sebagai salah satu ulama besar yang patut dikenang sepanjang masa. Karya-karyanya yang monumental akan terus menjadi rujukan dan sumber inspirasi bagi generasi mendatang dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam.





