Kisah sukses Lucy Guo, seorang pengusaha AI yang telah mengalahkan Kylie Jenner dan Taylor Swift sebagai wanita terkaya dengan usaha sendiri, merupakan inspirasi bagi banyak perempuan di dunia teknologi. Perjalanan kariernya yang penuh tantangan, dimulai dari larangan ibunya hingga pencapaian miliaran dolar, menunjukkan kegigihan dan visi yang luar biasa.
Dari seorang programmer di perusahaan ternama seperti Quora dan Snapchat hingga pendiri startup sukses, Lucy Guo membuktikan bahwa keberanian dalam mengejar mimpi dapat membuahkan hasil yang luar biasa. Kehidupannya yang penuh dinamika, baik dalam ranah profesional maupun personal, menjadi sorotan publik.
Dari Programmer Hingga Miliarder: Jejak Karier Lucy Guo
Lucy Guo memulai kariernya di dunia teknologi dengan bergabung di Quora dan kemudian menjadi desainer wanita pertama di Snapchat. Langkah selanjutnya yang menentukan adalah bergabung dengan Scale AI bersama Alexander Wang.
Di Scale AI, bakatnya semakin terasah. Keberhasilannya di perusahaan ini, yang kini siap untuk dijual, memberikan kontribusi signifikan terhadap kekayaan bersihnya yang mencapai 1,2 miliar dolar AS (sekitar 20 triliun rupiah).
Setelah meninggalkan Scale AI pada 2018, Lucy Guo mendirikan beberapa startup, termasuk Moment dan Passes. Meski Passes sempat menuai kontroversi terkait dugaan keterlibatan dalam produksi pornografi anak, Lucy dan perusahaannya telah membantah tuduhan tersebut.
Meskipun memiliki saham 5% di Scale AI, keberhasilannya dalam membangun perusahaan sendiri telah mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pengusaha wanita terkaya di dunia. Kepemilikan saham di beberapa perusahaan menambah kekayaan bersihnya yang fantastis.
Tantangan Awal dan Dukungan Keluarga: Perjalanan Menuju Kesuksesan
Jalan menuju kesuksesan Lucy Guo tidak selalu mulus. Ibunya, yang berlatar belakang teknik elektrik, sempat melarang Lucy untuk belajar coding saat ia masih kecil.
Alasannya? Ibu Lucy meyakini bahwa perempuan akan sulit bersaing dengan laki-laki di bidang teknologi. Namun, keinginan kuat Lucy untuk menekuni bidang pemrograman tak surut.
Ia tetap melanjutkan minatnya dan berhasil kuliah di jurusan Sains Komputer di Carnegie Mellon University. Bahkan, Lucy sempat berhenti kuliah untuk mengikuti Thiel Fellowship yang didirikan oleh Peter Thiel, co-founder PayPal.
Meskipun menghadapi penolakan dari orang tuanya, kegigihan dan tekad Lucy akhirnya membuahkan hasil. Ia berhasil membuktikan bahwa perempuan mampu bersaing dan meraih kesuksesan di dunia teknologi yang didominasi laki-laki.
Kehidupan Pribadi dan Pengakuan Publik: Lucy Guo di Luar Dunia Bisnis
Selain kesuksesan kariernya, kehidupan pribadi Lucy Guo juga menarik perhatian publik. Ia pernah membuat pengakuan publik mengenai orientasi seksualnya melalui TikTok.
Dalam video TikTok-nya, Lucy Guo mengaku sebagai biseksual dan telah memberitahukan hal tersebut kepada orang tuanya. Kejujuran dan keterbukaannya ini mendapatkan apresiasi dari banyak orang.
Pengakuan tersebut menunjukkan sisi lain dari sosok Lucy Guo di luar pencapaian profesionalnya. Ia memperlihatkan sisi manusiawi yang tak kalah inspiratif. Keberaniannya dalam menghadapi stigma dan mengungkapkan jati dirinya patut diapresiasi.
Kisah hidup Lucy Guo menjadi bukti bahwa kesuksesan bukan hanya tentang pencapaian materi, tetapi juga tentang keberanian untuk menjadi diri sendiri dan mengejar impian tanpa peduli hambatan.
Perjalanan Lucy Guo dari seorang gadis yang dilarang belajar coding oleh ibunya hingga menjadi salah satu wanita terkaya di dunia merupakan sebuah inspirasi yang luar biasa. Ketekunan, keberanian, dan kejujurannya membuktikan bahwa batas-batas kesuksesan dapat dilampaui dengan kerja keras dan kepercayaan diri.




