Kisah Fei Yu, lulusan terbaik Universitas Sichuan jurusan Kesehatan Masyarakat, menjadi perbincangan hangat di media sosial. Setelah meraih prestasi gemilang dengan peringkat pertama selama lima tahun kuliah dan diterima di program pascasarjana Universitas Fudan tanpa ujian, Fei justru memilih meninggalkan dunia akademis dan beralih profesi menjadi pedagang kaki lima.
Keputusan kontroversial ini memicu beragam reaksi dari netizen. Ada yang mengkritiknya karena dianggap menyia-nyiakan potensi, sementara yang lain memberikan dukungan penuh atas pilihan hidupnya.
Dari Lulusan Terbaik hingga Pedagang Kentang Tumbuk
Fei Yu, pria asal China ini, meraih gelar sarjana pada tahun 2022. Prestasi akademiknya yang luar biasa membawanya langsung ke program pascasarjana di Universitas Fudan.
Namun, perjalanan akademiknya terhenti di semester pertama program S2. Fei mengaku mengalami depresi, insomnia, dan masalah lambung akibat tekanan dan perlakuan buruk dari dosen pembimbingnya. Ia enggan merinci detail pengalaman tersebut.
Alih-alih melanjutkan studi, Fei memilih membuka usaha kentang tumbuk. Inspirasi ini muncul dari masa kecilnya membantu nenek berjualan balon dan pengalaman magang sebagai penjual kartu telepon semasa kuliah, di mana ia meraih penjualan tertinggi.
Tekanan Akademik dan Pilihan Hidup
Keputusan Fei untuk meninggalkan dunia akademis dan berjualan kaki lima didorong oleh tekanan psikologis yang dialaminya selama menempuh pendidikan tinggi. Lingkungan akademik yang kompetitif dan perlakuan pembimbingnya terbukti berdampak negatif pada kesehatannya.
Ia tumbuh di keluarga kurang mampu, dengan ayah sebagai penambang batubara dan ibu yang bekerja serabutan di supermarket. Pengalaman ini mungkin turut membentuk keputusannya untuk memilih pekerjaan yang lebih sesuai dengan kesehatannya mental dan fisik.
Menariknya, usaha kentang tumbuk Fei justru sukses besar. Gerobaknya yang terletak dekat kampus Universitas Sichuan selalu ramai pembeli, menghasilkan pendapatan 700-1.000 yuan (Rp 1,6 juta – Rp 2,3 juta) per hari.
Kontroversi dan Refleksi tentang Sukses
Kisah Fei menjadi viral dan memicu perdebatan sengit di dunia maya. Banyak yang mengkritiknya karena dianggap menyia-nyiakan pendidikan dan potensi yang dimilikinya.
Namun, Fei memiliki pandangan berbeda. Ia menekankan bahwa proses lebih penting daripada hasil. Baginya, kebahagiaan dan kesehatan mental jauh lebih berharga daripada tekanan akademis dan pekerjaan yang mungkin tidak sesuai dengan minatnya.
Kini, Fei menghabiskan empat jam setiap harinya untuk mempersiapkan bahan dan berjualan selama dua hingga tiga jam. Meskipun melelahkan secara fisik, ia merasa terbebas dari tekanan psikologis yang dulu dialaminya.
Fei menemukan kepuasan dan keseimbangan dalam pekerjaannya yang baru. Baginya, ini adalah “dunia baru” yang jauh lebih tenang dan sesuai dengan keinginannya. Ia telah membuktikan bahwa kesuksesan tidak selalu diukur dengan gelar akademik atau posisi pekerjaan tertentu, tetapi juga dengan kebahagiaan dan kepuasan pribadi.
Kisah Fei Yu menyajikan perspektif yang berbeda tentang definisi kesuksesan. Ia menunjukkan bahwa pilihan hidup yang sesuai dengan diri sendiri, meski terlihat tidak konvensional, bisa membawa kebahagiaan dan kepuasan yang tak ternilai. Pengalamannya menjadi pengingat bahwa kesehatan mental dan kesejahteraan diri seharusnya diprioritaskan di atas tekanan sosial dan ekspektasi.




