Pangeran Hisahito, bungsu dari Pangeran Mahkota Akishino, kini tengah memasuki babak baru dalam hidupnya. Setelah merayakan ulang tahun ke-18 yang menyita perhatian dunia, ia memulai kehidupan mahasiswa di Universitas Tsukuba. Langkah ini sangat penting, mengingat posisinya sebagai penerus tahta kedua di Kekaisaran Jepang yang tengah menghadapi tantangan keberlangsungan. Perjalanan akademisnya pun menarik perhatian publik dan menimbulkan berbagai spekulasi mengenai masa depan kerajaan.
Kehadiran Pangeran Hisahito menjadi sorotan karena jumlah anggota keluarga kerajaan Jepang yang semakin terbatas, khususnya dalam hal penerus laki-laki. Kekhawatiran ini semakin menguat mengingat aturan suksesi yang ketat hanya memperbolehkan pewaris laki-laki.
Mulai Kuliah di Universitas Tsukuba
Pangeran Hisahito resmi memulai studinya di Fakultas Ilmu Biologi, Sekolah Ilmu Hayati dan Lingkungan, Universitas Tsukuba di Prefektur Ibaraki. Pilihan jurusan ini selaras dengan minatnya pada alam. Ia mengungkapkan rasa antusias dan sedikit kekhawatiran menjelang kehidupan barunya sebagai mahasiswa.
Dalam upacara penerimaan mahasiswa baru, Pangeran Hisahito menyampaikan rasa syukurnya dapat belajar di berbagai bidang akademik, termasuk bidang yang diminatinya. Ia juga berencana menikmati kegiatan di luar akademik. “Aku merasa cemas dengan kehidupan baruku, tetapi aku akan menghargai setiap pengalaman yang aku punya mulai sekarang,” ujarnya kepada para reporter.
Untuk memudahkan mobilitasnya, Pangeran Hisahito dilaporkan menyewa apartemen sementara dekat kampus. Namun, ia tetap akan berulang-alik dari kediamannya di Akasaka Estate, Tokyo, dengan menggunakan mobil. Orang tuanya, Putra Mahkota Akishino dan Putri Mahkota Kiko, meskipun tidak hadir dalam upacara tersebut, menyatakan harapan mereka agar Pangeran Hisahito dapat memperluas wawasan dan menikmati kehidupan kampus.
Tantangan Keberlangsungan Kekaisaran Jepang
Usia 18 tahun Pangeran Hisahito menjadi tonggak penting, menandai anggota keluarga kerajaan Jepang pertama yang mencapai usia dewasa dalam 40 tahun terakhir. Posisinya sebagai pewaris tahta kedua setelah ayahnya, semakin memperkuat sorotan padanya.
Situasi ini menjadi sorotan karena jumlah anggota keluarga kerajaan Jepang yang terbatas, terutama laki-laki. Aturan suksesi yang hanya mengakui pewaris laki-laki menimbulkan kekhawatiran akan keberlangsungan kerajaan. Kekaisaran Jepang saat ini hanya memiliki empat anggota keluarga laki-laki. Putri-putri kerajaan, jika ingin mempertahankan gelar bangsawan, dilarang menikah dengan warga sipil. Mereka juga tidak dapat menjadi penerus tahta.
Sistem Suksesi yang Kontroversial
Sistem suksesi yang hanya memperbolehkan laki-laki menjadi pewaris tahta telah menjadi perdebatan panjang di Jepang. Banyak yang menyuarakan perlunya reformasi untuk mengakomodasi perempuan dalam garis suksesi.
Namun, perubahan sistem ini menghadapi tantangan budaya dan tradisi yang kuat di Jepang. Perubahan yang mendasar memerlukan perdebatan dan konsensus yang luas di parlemen dan masyarakat Jepang.
Masa Depan Pangeran Hisahito dan Kekaisaran Jepang
Dengan dimulainya kehidupan kampus, Pangeran Hisahito memasuki fase baru dalam hidupnya. Ia diharapkan dapat mengembangkan potensi dan wawasannya selama masa kuliah. Langkah ini juga menjadi simbol penting bagi keberlangsungan Kekaisaran Jepang.
Bagaimana Pangeran Hisahito akan menghadapi peran dan tanggung jawabnya di masa depan masih menjadi pertanyaan yang menarik untuk diikuti. Perjalanan pendidikannya dan perkembangan situasi politik di Jepang akan sangat menentukan masa depan kekaisaran dan tradisi monarki yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Kehidupan Pangeran Hisahito sebagai mahasiswa menjadi gambaran harapan dan tantangan bagi masa depan Kekaisaran Jepang. Di tengah kekhawatiran akan keberlangsungan dinasti, perjalanan pendidikannya di Universitas Tsukuba menjadi simbol persiapan generasi penerus dalam menghadapi era baru.




