Konflik antara Iran dan Israel berdampak luas pada dunia penerbangan internasional. Singapore Airlines, salah satu maskapai penerbangan ternama di Asia, menjadi salah satu yang merasakan dampaknya secara signifikan.
Sebagai langkah antisipasi dan demi keselamatan penumpang, Singapore Airlines terpaksa membatalkan seluruh penerbangannya antara Singapura dan Dubai hingga Rabu, 25 Juni 2025.
Pembatalan Total Penerbangan Singapura-Dubai
Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan situasi geopolitik yang tidak menentu di Timur Tengah dan prioritas utama keselamatan penumpang. Pembatalan ini meliputi semua penerbangan di rute Singapura-Dubai dan sebaliknya selama periode tersebut.
Singapore Airlines telah menginformasikan para penumpang yang terdampak dan menawarkan solusi berupa pemindahan ke penerbangan alternatif atau pengembalian dana penuh untuk tiket yang belum terpakai. Penumpang yang memesan melalui agen perjalanan disarankan untuk menghubungi agen tersebut langsung untuk informasi lebih lanjut.
Dampak Perang terhadap Lalu Lintas Udara Timur Tengah
Perang antara Iran dan Israel telah menyebabkan gangguan signifikan pada lalu lintas udara di Timur Tengah. Wilayah udara di atas Iran, Irak, dan hingga Mediterania menjadi area yang rawan dan dihindari banyak maskapai.
Penutupan sebagian wilayah udara dan kekhawatiran akan keselamatan penerbangan memaksa banyak maskapai untuk membatalkan, menunda, atau mengalihkan penerbangan mereka. Penerbangan menuju Bandara Internasional Dubai dan Doha di Qatar menjadi beberapa yang terdampak.
Sebagai respons atas situasi yang membahayakan, beberapa maskapai memilih rute alternatif, seperti melalui Laut Kaspia atau ke selatan melalui Mesir dan Arab Saudi. Strategi ini dipilih untuk menghindari wilayah udara yang dianggap berisiko tinggi.
Ancaman Spoofing GPS dan Risiko Keamanan
Selain penutupan wilayah udara, ancaman *spoofing* GPS juga menjadi perhatian serius bagi industri penerbangan. *Spoofing* merupakan tindakan jahat yang mengirimkan sinyal GPS palsu, sehingga dapat mengganggu navigasi pesawat.
Laporan dari Flightradar24 menunjukkan peningkatan gangguan dan aktivitas *spoofing* di Teluk Persia dalam beberapa hari terakhir. Hal ini semakin memperkuat kekhawatiran akan keselamatan penerbangan di kawasan tersebut.
Sebuah perusahaan Swiss, SkAI, yang memantau gangguan GPS melaporkan telah mendeteksi lebih dari 150 insiden *spoofing* dalam waktu 24 jam di wilayah tersebut. Situasi ini menambah kompleksitas dan risiko bagi penerbangan komersial.
Organisasi berbasis keanggotaan yang berbagi informasi risiko penerbangan, OPSGROUP, melalui situs web Safe Airspace, juga memperingatkan tentang potensi peningkatan ancaman bagi operator Amerika di wilayah tersebut. Hal ini meningkatkan risiko tambahan pada negara-negara teluk seperti Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Enam penerbangan Singapore Airlines antara Singapura dan Dubai yang terkena dampak pembatalan meliputi SQ494 dan SQ495 pada hari Senin, Selasa, dan Rabu. Jadwal penerbangan masing-masing adalah pukul 15.10 (SQ494) dan 19.45 (SQ495) waktu setempat.
Situasi di Timur Tengah masih sangat dinamis dan fluktuatif. Singapore Airlines menyatakan bahwa penerbangan SIA lainnya ke dan dari Dubai berpotensi terpengaruh, tergantung pada perkembangan situasi keamanan di kawasan tersebut. Prioritas utama tetap keselamatan penumpang dan kru pesawat.
Kejadian ini menyoroti betapa rentannya industri penerbangan terhadap ketidakstabilan geopolitik. Dampak ekonomi dan operasional bagi maskapai penerbangan akibat pembatalan penerbangan dan pengalihan rute diperkirakan cukup signifikan. Semoga konflik segera mereda dan situasi kembali normal sehingga penerbangan internasional dapat beroperasi dengan aman dan lancar.





