Konflik antara Iran dan Israel berdampak luas pada dunia penerbangan internasional. Singapore Airlines menjadi salah satu maskapai yang merasakan dampaknya secara signifikan. Mereka telah membatalkan seluruh penerbangan antara Singapura dan Dubai hingga Rabu, 25 Juni 2025, mengingat situasi geopolitik yang tidak menentu di Timur Tengah.
Keputusan ini diambil sebagai langkah antisipasi untuk menjamin keselamatan penumpang dan kru. Maskapai penerbangan tersebut menyatakan pertimbangan utama adalah keamanan dan kondisi geopolitik yang tidak stabil di kawasan tersebut.
Singapore Airlines Membatalkan Seluruh Penerbangan ke Dubai
Pembatalan penerbangan Singapore Airlines ke Dubai dilakukan secara menyeluruh. Hal ini mencakup enam penerbangan terjadwal pada Senin, Selasa, dan Rabu, 23-25 Juni 2025.
Penumpang yang terdampak akan mendapatkan informasi lebih lanjut dari pihak maskapai. Mereka dapat memilih penerbangan alternatif atau mengajukan pengembalian dana penuh untuk tiket yang belum terpakai.
Bagi penumpang yang memesan tiket melalui agen perjalanan, disarankan untuk menghubungi agen tersebut untuk informasi lebih lanjut mengenai proses selanjutnya. Situasi yang masih fluktuatif juga berpotensi berdampak pada penerbangan SIA lainnya ke dan dari Dubai.
Dampak Perang Iran-Israel terhadap Penerbangan Internasional
Perang Israel-Iran telah menimbulkan kekhawatiran keamanan di kawasan Timur Tengah. Banyak maskapai penerbangan internasional mengalami gangguan operasional karena konflik ini.
Wilayah udara di atas Iran, Irak, dan Mediterania sebagian besar kosong dari lalu lintas udara komersial sejak dimulainya serangan Israel terhadap Iran pada 13 Juni 2025.
Maskapai memilih untuk mengalihkan, membatalkan, atau menunda penerbangan melewati wilayah tersebut karena penutupan wilayah udara dan kekhawatiran akan keselamatan penerbangan.
Penutupan Wilayah Udara dan Ancaman Keamanan
Penutupan sebagian wilayah udara di Timur Tengah memaksa beberapa maskapai untuk mencari rute alternatif. Beberapa memilih untuk terbang lebih jauh ke utara, melewati Laut Kaspia, atau ke selatan, melewati Mesir dan Arab Saudi.
Selain penutupan wilayah udara, ancaman keamanan lain juga menjadi pertimbangan. Terdapat laporan tentang peningkatan gangguan dan spoofing sinyal GPS di Teluk Persia. Hal ini dapat membahayakan navigasi pesawat.
Spoofing Sinyal GPS dan Ancaman Lainnya
Spoofing GPS merupakan upaya jahat untuk menyiarkan sinyal GPS palsu, sehingga membingungkan sistem navigasi pesawat. Laporan dari perusahaan pemantau menunjukkan peningkatan aktivitas spoofing dalam beberapa hari terakhir.
Organisasi penerbangan internasional juga telah mengeluarkan peringatan terkait potensi meningkatnya risiko di negara-negara teluk, seperti Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Langkah Antisipasi dan Informasi Lebih Lanjut
Singapore Airlines menekankan komitmennya terhadap keselamatan penumpang. Pembatalan penerbangan merupakan langkah preventif untuk meminimalisir risiko.
Maskapai lain yang beroperasi di kawasan Timur Tengah juga mengambil langkah-langkah serupa untuk menjamin keselamatan penerbangan. Situasi ini terus berkembang dan berpotensi menimbulkan perubahan lebih lanjut terhadap jadwal penerbangan.
Para penumpang disarankan untuk memantau informasi terbaru dari maskapai penerbangan masing-masing dan mengikuti petunjuk dari otoritas terkait. Keamanan dan keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu ini. Semoga situasi ini segera mereda dan aktivitas penerbangan kembali normal.
Situasi konflik menunjukkan betapa pentingnya kerja sama internasional untuk menjaga stabilitas dan keamanan penerbangan global. Kejadian ini juga mengingatkan kita akan pentingnya perencanaan perjalanan yang fleksibel dan antisipatif di tengah ketidakpastian global.





