Eskalasi konflik antara Iran dan Israel, yang melibatkan Amerika Serikat, telah menciptakan situasi mencekam di Timur Tengah. Wilayah udara di atas Iran, Irak, dan Mediterania menjadi zona berbahaya bagi penerbangan sipil. Akibatnya, lalu lintas udara komersial di kawasan tersebut lumpuh selama lebih dari sepuluh hari.
Maskapai penerbangan internasional merespon dengan cepat. Banyak yang memilih untuk mengalihkan rute, membatalkan penerbangan, atau menunda keberangkatan. Keputusan ini diambil demi keselamatan penumpang dan awak pesawat.
Penutupan wilayah udara di jantung konflik memaksa maskapai mencari jalur alternatif, meskipun hal ini menambah jarak tempuh dan biaya operasional. Bahkan hub penerbangan utama seperti Doha dan Dubai pun dihindari sejumlah maskapai.
Dampak Perang terhadap Penerbangan Sipil
Penutupan wilayah udara dan pembatalan penerbangan massal menimbulkan dampak besar. Ribuan penumpang terlantar di berbagai bandara, sementara yang lain terpaksa membatalkan rencana perjalanan.
Salah satu contohnya adalah Miret Padovani, seorang pebisnis yang terjebak di Bandara Internasional Hamad, Doha. Ia terpaksa membatalkan penerbangan ke Thailand dan kembali ke Dubai.
Situasi ini menunjukkan betapa signifikannya dampak konflik terhadap industri penerbangan sipil. Ketidakpastian keamanan memaksa maskapai mengambil langkah-langkah drastis.
Maskapai yang Menghentikan Penerbangan ke Timur Tengah
Sejumlah maskapai besar telah mengumumkan penghentian sementara penerbangan ke Timur Tengah. Keputusan ini mencerminkan tingginya risiko keamanan di wilayah tersebut.
Berikut daftar maskapai yang terdampak dan langkah-langkah yang mereka ambil:
Singapore Airlines
Singapore Airlines membatalkan penerbangan Singapura-Dubai pada 22 Juni 2025. Penerbangan ke Dubai dihentikan hingga Selasa, 24 Juni 2025.
British Airways
British Airways membatalkan sejumlah rute menuju dan dari Dubai serta Doha. Pembatalan ini didasarkan pada pertimbangan keamanan.
Air France
Air France menghentikan sementara penerbangan ke Dubai dan Riyadh pada 22 dan 23 Juni 2025. Penerbangan ke Beirut juga ditunda.
Air India
Air India menghentikan seluruh penerbangan ke Timur Tengah pada 23 Juni 2025. Penerbangan ke Amerika Utara dan Eropa juga terkena dampaknya. Beberapa penerbangan yang sudah mengudara bahkan dialihkan kembali ke bandara asal.
Finnair
Finnair menjadi maskapai pertama yang mengumumkan penghentian rute ke Doha hingga 30 Juni 2025. Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap kondisi yang tidak menentu.
Air France KLM, Iberia, dan Air Astana
Ketiga maskapai ini juga menghentikan sementara penerbangan ke Dubai dan Doha sebelum 24 Juni 2025. Mereka bergabung dengan maskapai lain dalam merespon situasi krisis.
Analisis dan Proyeksi Ke Depan
Situasi di Timur Tengah masih sangat fluktuatif. Tidak dapat dipastikan kapan wilayah udara akan kembali dibuka sepenuhnya untuk penerbangan sipil.
Maskapai terus memantau perkembangan situasi keamanan. Keputusan mengenai pembukaan kembali rute penerbangan akan bergantung pada evaluasi risiko secara komprehensif.
Dampak ekonomi dari pembatalan penerbangan ini sangat signifikan, baik bagi maskapai maupun bagi sektor pariwisata di kawasan Timur Tengah.
Perlu kerjasama internasional untuk memastikan keselamatan penerbangan sipil di tengah konflik. Koordinasi antara otoritas penerbangan dan maskapai sangat penting untuk meminimalkan dampak negatif yang lebih besar.
Kejadian ini menunjukkan betapa rapuhnya industri penerbangan terhadap konflik geopolitik. Situasi ini juga menyoroti pentingnya perencanaan yang matang dan respon cepat dari pihak terkait dalam mengantisipasi dampak krisis.





