Tekanan sosial untuk menikah, khususnya di masyarakat China, telah mendorong munculnya tren unik: jasa pengantin palsu. Salah satu pelaku jasa ini, Cao Mei, telah membangun bisnis yang sukses dengan memanfaatkan permintaan tersebut.
Cao, warga Chengdu, memulai kariernya sebagai pengantin palsu pada tahun 2018. Awalnya hanya membantu teman, namun ia melihat peluang bisnis yang besar dari banyaknya individu yang terbebani harapan keluarga terkait pernikahan.
Menjadi Pengantin Palsu di China: Peluang Bisnis yang Tak Terduga
Selama tujuh tahun, Cao telah berperan dalam lebih dari 20 pernikahan palsu. Ia menekankan bahwa perannya hanya sebatas menciptakan penampilan sempurna selama upacara, tanpa keterlibatan hukum.
Permintaan jasa Cao biasanya meningkat pada hari libur atau acara spesial. Sebelum acara, ia mempelajari detail identitas palsu, seperti usia, pekerjaan, dan latar belakang pendidikan, serta bertemu dengan keluarga calon mempelai pria.
Dalam pernikahan palsu tersebut, Cao mengenakan gaun pengantin, bergandengan tangan dengan mempelai pria, dan berpartisipasi penuh dalam perayaan. Pengalaman ini juga mengungkap betapa besar tekanan yang dihadapi keluarga-keluarga di China terkait ekspektasi masyarakat mengenai pernikahan.
Bahkan, beberapa orang tua menyewa Cao untuk membantu anak laki-laki mereka menciptakan pernikahan palsu semata-mata untuk mendapatkan hadiah pernikahan.
Industri Jasa Pendukung: Lebih dari Sekedar Pengantin Palsu
Cao bukanlah satu-satunya. Banyak individu lain menawarkan jasa serupa, berperan sebagai orang tua, bos, atau anak bagi klien yang membutuhkan. Di China, grup online memudahkan pencarian aktor untuk berbagai peran dalam kehidupan sehari-hari.
Meskipun permintaan tinggi, tidak ada standar harga yang baku untuk jasa ini. Tarifnya bervariasi tergantung pada kompleksitas peran dan durasi penampilan.
Pendapatan dan Risiko Profesi yang Tak Biasa
Sebagai pengantin palsu, Cao mampu menghasilkan 1.500 yuan (sekitar Rp 3,3 juta) per hari. Pendapatan ini jauh melebihi penghasilan sebelumnya sebagai figuran film, yang hanya menghasilkan beberapa puluh yuan per penampilan.
Cao mengakui bahwa penghasilan dari menjadi pengantin palsu jauh lebih tinggi daripada pekerjaan konvensional bulanannya. Namun, ia memilih merahasiakan profesinya dari keluarganya.
Ia khawatir keluarganya akan salah mengartikan pekerjaannya sebagai pekerja seks, meskipun ia menegaskan tidak pernah terlibat kontak intim dengan klien. Industri ini juga menghadapi risiko seperti ancaman dari klien yang meminta layanan seksual atau bahkan tidak membayar.
He Bo, pengacara dari Sichuan Hongqi Law Firm, menjelaskan bahwa meskipun pekerjaan Cao tidak ilegal, tetap ada risiko hukum, seperti potensi penipuan atau pemalsuan identitas.
Meskipun demikian, bagi Cao, menjadi pengantin palsu tetap menjadi pilihan yang lebih menguntungkan secara finansial dibandingkan pekerjaan konvensional.
Kisah Cao Mei memperlihatkan sisi unik dari tekanan sosial di China dan bagaimana individu mampu menemukan peluang bisnis di tengah tantangan tersebut. Namun, di balik kesuksesan finansial, pekerjaan ini juga mengandung risiko dan dilema etika yang perlu dipertimbangkan.
Lebih lanjut, fenomena ini juga mencerminkan kompleksitas hubungan keluarga dan ekspektasi sosial di masyarakat China modern.




