Rahasia Haji Mabrur: 2 Ciri Utama dari Rasulullah SAW

Redaksi

Rahasia Haji Mabrur: 2 Ciri Utama dari Rasulullah SAW
Sumber: Liputan6.com

Haji, puncak perjalanan spiritual bagi umat Muslim, kembali dirayakan pada tahun 2025. Jutaan jamaah dari seluruh dunia berkumpul di Tanah Suci untuk menunaikan rukun Islam yang agung ini. Namun, di balik pelaksanaan ibadah haji yang khusyuk, terdapat sebuah dambaan mulia bagi setiap muslim, yaitu mencapai haji mabrur.

Haji mabrur bukanlah sekadar menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji. Ia mengandung makna yang jauh lebih dalam dan berdampak luas, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Keutamaan haji mabrur begitu besar, bahkan dijanjikan surga sebagai balasannya. Mari kita telusuri lebih dalam makna dan ciri-ciri haji mabrur agar kita dapat memahaminya dan berusaha mencapainya.

Pengertian Haji Mabrur

Kata “mabrur” berasal dari akar kata “birr” yang berarti kebaikan atau kebajikan. Maka, haji mabrur secara harfiah diartikan sebagai haji yang penuh kebaikan dan kebajikan.

Lebih dari sekadar pelaksanaan ritual, haji mabrur adalah haji yang diterima Allah SWT dan membawa dampak positif bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar. Penerimaan haji oleh Allah merupakan urusan-Nya, namun kita dapat berupaya semaksimal mungkin untuk mencapai derajat haji mabrur.

Usaha menuju haji mabrur tidak hanya dilakukan selama pelaksanaan ibadah haji saja, melainkan juga dimulai dari persiapan sebelum berangkat hingga setelah kembali ke tanah air. Setiap tahapan memiliki perannya masing-masing dalam menentukan kualitas ibadah haji kita.

Ciri-Ciri Haji Mabrur

Rasulullah SAW menjelaskan beberapa ciri utama haji mabrur dalam hadis-hadis beliau. Dua ciri utama yang sering disebutkan adalah kedermawanan dan kesantunan.

Pertama, jamaah haji mabrur senantiasa berderma dan menyebarkan kedamaian. Hadits dari Jabir RA. menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Haji mabrur balasannya hanya surga. Lalu ditanya, ‘Ya Rasulullah, haji mabrur itu seperti apa?’ Beliau menjawab, ‘Memberi makan dan menyebarkan salam'”. Kedermawanan ini tidak terbatas pada materi saja, namun juga meliputi perbuatan baik dan sikap ramah.

Kedua, jamaah haji mabrur dikenal dengan kesantunan tutur katanya. Hadits lain menyebutkan, “Rasulullah SAW ditanya tentang haji mabrur. Beliau menjawab, ‘Memberi makan dan berkata-kata yang baik'”. Berbicara dengan lembut, menghormati sesama, dan menghindari perkataan kasar merupakan bagian penting dari kesantunan.

Haji Mabrur: Sebuah Proses Berkelanjutan

Mencapai haji mabrur adalah proses yang berkelanjutan, bukan tujuan yang instan. Ia membutuhkan kesungguhan, keikhlasan, dan komitmen dalam menjalankan ibadah dan berinteraksi dengan sesama.

Tidak hanya aspek spiritual, persiapan fisik dan mental juga sangat penting. Sehat jasmani dan rohani akan membantu kita menjalani ibadah dengan khusyuk dan penuh makna. Lebih dari itu, persiapan yang matang secara spiritual, misalnya dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, akan sangat menentukan kualitas ibadah haji kita.

Dengan memahami makna dan ciri-ciri haji mabrur, kita dapat merencanakan dan melaksanakan ibadah haji dengan lebih baik. Semoga kita semua dimampukan untuk mendapatkan haji mabrur dan meraih ridho Allah SWT.

Also Read

Tags

Leave a Comment