Rahasia Hari Tasyrik: 3 Hari Setelah Idul Adha

Redaksi

Rahasia Hari Tasyrik: 3 Hari Setelah Idul Adha
Sumber: Liputan6.com

Setelah merayakan Hari Raya Idul Adha, umat Muslim masih memiliki momen penting lainnya. Tiga hari setelahnya, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, dikenal sebagai Hari Tasyrik. Hari-hari ini memiliki keutamaan dan makna khusus dalam Islam, salah satunya adalah diharamkannya berpuasa. Mengapa tiga hari ini disebut Hari Tasyrik? Mari kita telusuri makna dan alasan di baliknya.

Makna Hari Tasyrik dalam Islam

Kata “Tasyrik” berasal dari bahasa Arab, berakar dari kata “syarraqa” yang berarti “matahari terbit” atau “menjemur sesuatu.” Artinya juga mencakup penghadapan ke arah timur, arah terbitnya matahari. Makna ini terkait erat dengan dua pendapat utama ulama mengenai asal-usul penamaan Hari Tasyrik.

Pendapat Pertama: Menjemur Daging Qurban

Salah satu pendapat ulama menjelaskan bahwa Hari Tasyrik dinamakan demikian karena pada hari-hari tersebut, umat Muslim menjemur daging kurban mereka. Pada masa Rasulullah SAW, belum ada teknologi pendingin seperti kulkas. Menjemur daging adalah cara efektif untuk mengawetkannya agar dapat dikonsumsi dalam jangka waktu lebih lama.

Praktik ini penting untuk memanfaatkan daging kurban yang melimpah pasca-Idul Adha. Dengan menjemurnya, daging dapat menjadi cadangan makanan untuk beberapa hari ke depan. Ini menunjukkan kearifan dan kepraktisan umat Muslim dalam memanfaatkan nikmat Allah SWT.

Pendapat Kedua: Waktu Pelaksanaan Qurban dan Larangan Puasa

Pendapat lain menyebutkan bahwa Hari Tasyrik dinamakan demikian karena ritual qurban dilakukan setelah matahari terbit. Hari-hari Tasyrik merupakan waktu yang dianjurkan untuk menikmati hidangan dari daging qurban. Hal ini dijelaskan dalam hadits yang melarang berpuasa pada hari-hari tersebut, kecuali bagi mereka yang tidak mendapatkan hewan qurban saat menunaikan ibadah haji.

Larangan berpuasa pada Hari Tasyrik menekankan pentingnya menikmati dan bersyukur atas berkah daging qurban. Rasulullah SAW bahkan menyebut hari-hari Tasyrik sebagai hari untuk makan dan minum, menunjukkan betapa pentingnya menikmati hidangan bersama keluarga dan masyarakat.

Hadits Terkait Hari Tasyrik

Hadits riwayat Bukhari menjelaskan larangan berpuasa pada hari Tasyrik, kecuali bagi yang tak mendapatkan hewan qurban. Hal ini menunjukkan pengecualian bagi mereka yang tidak ikut berqurban karena kondisi tertentu. Hadits lainnya, dari riwayat An-Nasa’i, menyebutkan Hari Arafah, Idul Adha, dan Hari Tasyrik sebagai hari raya umat Islam yang dikhususkan untuk makan dan minum.

Amalan Sunnah di Hari Tasyrik

Selain menikmati hidangan daging qurban, umat Muslim juga dianjurkan untuk memperbanyak amalan ibadah lainnya di Hari Tasyrik. Berdzikir, berdoa, dan bersedekah adalah beberapa amalan yang dianjurkan. Semangat berbagi dan meningkatkan keimanan menjadi fokus utama di hari-hari tersebut.

Ayat Al-Quran surat Al-Kautsar ayat 2 juga memerintahkan untuk melaksanakan shalat dan berqurban, menunjukkan pentingnya ibadah ini dalam konteks Hari Tasyrik dan Idul Adha.

Hari Tasyrik bukan sekadar tiga hari setelah Idul Adha, melainkan momen penuh makna bagi umat Muslim. Momen ini mengajarkan tentang pentingnya bersyukur atas nikmat Allah SWT, memanfaatkan sumber daya dengan bijak, serta memperbanyak amal ibadah. Pemahaman mendalam tentang makna Hari Tasyrik akan semakin memperkaya keimanan dan ketaqwaan kita.

Also Read

Tags

Leave a Comment