Lucy Guo, cofounder Scale AI, telah mencetak sejarah sebagai wanita terkaya hasil usaha sendiri di tahun 2025, menurut daftar Forbes terbaru. Ia berhasil menggeser posisi Taylor Swift dan mencapai puncak kesuksesan ini di usia 30 tahun. Keberhasilannya bukan hanya soal angka fantastis dalam rekening bank, tetapi juga cerminan gaya hidup yang unik dan inspiratif.
Dengan kekayaan mencapai Rp 19 triliun, Lucy Guo membuktikan bahwa kesuksesan finansial tidak selalu diiringi oleh gaya hidup mewah yang berlebihan. Kisahnya menawarkan perspektif baru tentang bagaimana seseorang dapat mencapai puncak karier dan tetap membumi.
Perjalanan Menuju Puncak: Dari Programmer Hingga Miliarder
Sebelum menjadi miliarder, Lucy Guo telah mengukir jejak karier yang impresif. Ia pernah bekerja di perusahaan teknologi ternama seperti Scale AI dan Quora.
Ia bahkan tercatat sebagai desainer wanita pertama di Snapchat. Pengalaman ini menjadi batu loncatan menuju pencapaiannya yang luar biasa.
Pada 2023, Lucy Guo sudah berstatus miliarder, menempati posisi teratas wanita terkaya setelah Kylie Jenner. Hanya dalam dua tahun, ia berhasil memuncaki daftar wanita terkaya versi Forbes tahun 2025.
Gaya Hidup Sederhana Miliarder: Menolak Hedonisme
Meskipun memiliki kekayaan melimpah, Lucy Guo memilih untuk menjalani hidup sederhana. Ia menolak untuk terjebak dalam hedonisme yang seringkali diidentikkan dengan kekayaan.
Ia sering menggunakan transportasi umum atau diantar dengan Honda Civic tua oleh asistennya. Menurutnya, hal-hal materialistis bukanlah hal yang penting.
Pakaiannya pun tergolong sederhana. Lucy mengaku sering memakai pakaian dari Shein dan memanfaatkan promo beli satu gratis satu di Uber Eats.
Ia juga hanya mengenakan gaun rancangan desainer ternama pada kesempatan khusus. Untuk kebutuhan sehari-hari, kesederhanaan tetap menjadi pilihan utamanya.
Sikap Anti-Insecure: Bukti Diri Bukan Prioritas
Lucy Guo, yang secara terbuka mengaku biseksual, mengatakan bahwa status miliarder tidak membuatnya merasa perlu membuktikan diri.
Ia menolak untuk mengenakan barang-barang mewah seperti jam Patek Philippe atau tas Hermes Birkin, yang menurutnya seringkali dipakai untuk mengatasi rasa tidak aman.
Bagi Lucy, penampilan sederhana seperti mengenakan kaos oblong, celana jeans, dan hoodie merupakan simbol kebebasan dan kepercayaan diri yang telah terbangun.
Ia telah melewati masa sulit untuk membuktikan kemampuannya, dan kini ia merasa tidak perlu lagi membuktikan diri kepada siapapun.
Kisah Lucy Guo menjadi inspirasi bagi banyak orang. Ia menunjukkan bahwa kesuksesan dapat dicapai tanpa harus mengorbankan nilai-nilai hidup dan kepribadian yang sesungguhnya. Keberhasilannya bukan hanya soal angka kekayaan, melainkan juga tentang integritas dan gaya hidup yang sederhana namun bermakna.




