Hamzah bin Abdul Muthalib, paman sekaligus saudara sepersusuan Nabi Muhammad SAW, merupakan sosok legendaris dalam sejarah Islam. Keberanian dan kesetiaannya yang tak tergoyahkan kepada Rasulullah SAW telah mengukuhkan namanya sebagai salah satu pahlawan terkemuka dalam perjuangan menegakkan agama Islam. Kisah-kisah kepahlawanannya dalam berbagai pertempuran, terutama di Perang Uhud dan Badar, terus menginspirasi hingga kini.
Gelar “Singa Allah” yang disematkan kepadanya bukanlah sekadar pujian belaka. Ia mencerminkan kekuatan, keberanian, dan keteguhan hati Hamzah dalam membela kebenaran dan melindungi Rasulullah SAW.
Gelar Kehormatan: Singa Allah
Sa’d bin Abi Waqqas RA meriwayatkan bahwa Hamzah bin Abdul Muthalib RA pernah menyatakan di hadapan Rasulullah SAW, “Aku adalah singa Allah Azza wa Jalla.”
Rasulullah SAW sendiri membenarkan pernyataan tersebut dengan sabdanya, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya Hamzah bin Abdul Muthalib telah ditulis di langit ketujuh bahwa dia adalah singa Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.”
Gelar ini menunjukkan pengakuan atas peran penting dan keberanian luar biasa Hamzah dalam membela Islam.
Persaudaraan Susu dan Kesetiaan Tak Tergoyahkan
Hubungan Hamzah dengan Nabi Muhammad SAW tidak hanya terjalin melalui ikatan keluarga, tetapi juga persaudaraan susu.
Keduanya disusui oleh Tsuwaibah, seorang budak milik Abu Lahab. Nabi Muhammad SAW sendiri bersabda, “Hamzah bin Abdul Muthalib adalah saudara sepersusuanku.” Ikatan persaudaraan susu ini semakin memperkuat ikatan kekeluargaan dan kesetiaan Hamzah kepada Nabi.
Kesetiaan ini terlihat nyata dalam pengabdiannya yang total kepada Rasulullah SAW dan perjuangan Islam.
Keberanian Hamzah di Medan Perang
Ketika Rasulullah SAW diizinkan untuk berperang, beliau menunjuk Hamzah sebagai pemimpin pasukan pertama.
Hamzah memimpin 30 Muhajirin untuk menghalau kafilah dagang Quraisy yang dipimpin Abu Jahal dengan 300 orang. Pertemuan di Saiful Bahr hampir berujung perang, namun Majdi bin Umar al-Juhani berhasil mendamaikan kedua belah pihak.
Keberanian Hamzah juga terlihat jelas dalam Perang Badar.
Dalam perang Badar al-Kubra, Hamzah menjadi pejuang terdepan dalam mubârazah (perang tanding). Ia berduel melawan Utbah bin Rabi’ah, dan berhasil mengalahkan lawannya. Peristiwa ini mengukuhkan reputasinya sebagai pejuang yang tangguh dan berani.
Perang Badar merupakan pertempuran antara dua kekuatan yang besar, pasukan Allah dan pasukan setan, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Hajj ayat 19.
Abdurrahman bin Auf RA, salah seorang sahabat yang dijamin masuk surga, bahkan mengakui keunggulan Hamzah atas dirinya. Kesaksian ini menjadi bukti nyata akan keutamaan dan kebaikan Hamzah.
Kematian Hamzah yang gugur syahid dalam perang menjadi duka mendalam bagi umat Islam. Namun, kisah kehidupannya akan terus dikenang sebagai teladan keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan dalam membela agama.
Keteguhan hati dan keberaniannya dalam membela Islam menginspirasi generasi demi generasi untuk terus berjuang menegakkan keadilan dan kebenaran. Legasi Hamzah bin Abdul Muthalib akan tetap hidup sepanjang masa.





