Perselisihan di tempat kerja kerap terjadi, namun kasus Lorna Rooke terbilang unik. Sebuah lelucon kantor yang tidak berbahaya berujung pada tuntutan hukum dan ganti rugi jutaan rupiah. Kisah ini menyoroti bagaimana lelucon yang dianggap sepele bisa berdampak serius pada karier seseorang, bahkan berujung di pengadilan.
Tes Kepribadian Star Wars Picu Masalah Hukum
Pada tahun 2021, Lorna Rooke, seorang karyawan di pusat donor darah, menjadi korban lelucon rekan kerjanya. Mereka mengisi tes kepribadian Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) bertema Star Wars. Lorna sendiri tidak ikut serta karena sedang menerima telepon.
Namun, salah seorang rekan kerjanya mengisi kuisioner MBTI atas nama Lorna. Hasilnya? Lorna diklaim memiliki kepribadian yang mirip dengan Darth Vader.
Dampak Negatif dan Gugatan Hukum
Ironisnya, lelucon ini berdampak buruk pada karier Lorna. Ia merasa terganggu dan tidak nyaman dengan julukan tersebut.
Kejadian ini membuatnya merasa terisolasi dan tidak populer di lingkungan kerja. Akibatnya, Lorna mengundurkan diri dari perusahaan.
Ia kemudian mengajukan gugatan hukum, menuntut kompensasi atas apa yang ia anggap sebagai pemecatan yang tidak adil, diskriminasi atas disabilitas, dan kegagalan perusahaan untuk melakukan penyesuaian yang diperlukan.
Interpretasi Kepribadian Darth Vader
Meskipun Darth Vader dikenal sebagai tokoh antagonis dalam Star Wars, tipe kepribadian INTJ yang sering dikaitkan dengannya, justru digambarkan sebagai individu yang fokus dan mampu menyatukan tim.
Namun, pengadilan memutuskan bahwa menghubungkan Lorna dengan citra fisik Darth Vader tetap dianggap sebagai penghinaan.
Hasil Sidang dan Kompensasi
Setelah melalui proses persidangan, pengadilan memutuskan Lorna Rooke berhak atas kompensasi. Ia menerima £28.989,61 (sekitar Rp 636 juta) atas kerugian yang dialaminya.
Namun, klaimnya terkait pemecatan tidak adil, diskriminasi disabilitas, dan kegagalan perusahaan untuk melakukan penyesuaian ditolak oleh pengadilan. Kasus ini menyoroti pentingnya sensitivitas dan etika di lingkungan kerja, betapa lelucon yang tampak ringan bisa berdampak signifikan dan berujung pada konsekuensi hukum.
Kasus Lorna Rooke menjadi pelajaran berharga bagi perusahaan dan karyawan. Penting untuk selalu menjaga etika dan sensitivitas dalam berinteraksi di lingkungan kerja. Lelucon yang tampaknya tidak berbahaya dapat menimbulkan dampak yang merugikan dan bahkan berujung pada tuntutan hukum. Budaya kerja yang menghargai dan melindungi karyawan sangat penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang positif dan produktif. Semoga kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya komunikasi yang efektif dan empati dalam setiap interaksi antar karyawan.




