Ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel meningkat tajam pasca serangan Israel ke fasilitas militer dan nuklir Iran pada 13 Juni 2025. Serangan ini memicu kekhawatiran global, termasuk di Indonesia, yang berdampak signifikan pada sektor industri manufaktur.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengeluarkan peringatan serius terkait dampak konflik tersebut bagi industri dalam negeri. Ia menekankan pentingnya antisipasi dan langkah strategis untuk meminimalisir kerugian.
Ancaman terhadap Ketergantungan Energi Impor
Indonesia memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap energi impor, terutama energi fosil dari Timur Tengah.
Konflik Iran-Israel mengancam pasokan energi ini, berpotensi meningkatkan harga dan mengganggu proses produksi industri manufaktur.
Menperin Agus menekankan perlunya efisiensi penggunaan energi dan diversifikasi sumber energi. Hal ini untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing produk industri.
Penggunaan energi yang lebih efisien dari berbagai sumber, termasuk energi baru terbarukan (EBT) seperti bioenergi dan panas bumi, sangat penting untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
Pemanfaatan limbah industri sebagai bahan bakar alternatif juga menjadi solusi yang perlu dikaji dan diterapkan.
Diversifikasi Sumber Energi dan Rantai Pasok
Selain efisiensi energi, diversifikasi sumber energi menjadi kunci untuk menghadapi ketidakpastian pasokan energi global.
Menperin mendorong industri untuk beralih ke sumber energi domestik, mengurangi ketergantungan pada impor dari kawasan Timur Tengah yang rawan konflik.
Selain itu, gangguan pada rantai pasok global juga menjadi ancaman serius. Banyak jalur logistik bahan baku dan produk ekspor melewati Timur Tengah.
Industri harus mempersiapkan diri menghadapi potensi disrupsi rantai pasok ini, mencari alternatif sumber bahan baku dan jalur logistik alternatif.
Antisipasi Gejolak Nilai Tukar dan Inflasi
Konflik Iran-Israel juga berpotensi memicu gejolak nilai tukar mata uang dan inflasi.
Hal ini dapat meningkatkan harga input produksi dan menurunkan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar internasional.
Industri perlu memiliki strategi yang tepat untuk menghadapi fluktuasi nilai tukar dan inflasi agar tetap mampu bersaing.
Penting bagi industri untuk melakukan perencanaan yang matang, termasuk pengelolaan keuangan dan manajemen risiko, untuk menghadapi potensi dampak negatif dari konflik tersebut.
Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian berkomitmen untuk mendukung industri dalam negeri menghadapi tantangan ini.
Kenaikan harga minyak Brent yang telah berfluktuasi antara 73 hingga 92 dollar AS per barrel pasca konflik menjadi indikator nyata dampak konflik ini terhadap pasar energi global. Ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia, semakin memperparah situasi.
Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan populasi besar, Indonesia sangat rentan terhadap gejolak harga energi dan pangan global serta gangguan rantai pasok. Antisipasi dan langkah proaktif dari industri manufaktur sangatlah krusial untuk menghadapi tantangan ini dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.





