Pada Sabtu (1/2/2025), sebuah angka yang mengejutkan muncul di Google, memperlihatkan nilai tukar dollar Amerika (USD) ke rupiah sebesar Rp 8.170,65.
Angka ini langsung mencuri perhatian publik dan memicu perbincangan hangat di berbagai media sosial, termasuk X (Twitter). Bahkan, kata-kata “USD,” “Rupiah,” dan “Error” sempat menjadi trending topic malam itu.
Hingga Minggu (2/2/2025) pukul 17.50 WIB, isu terkait “nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika” masih mendominasi pencarian di Google Trends. Namun, Bank Indonesia (BI) segera memberikan penjelasan terkait hal ini.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangannya pada Sabtu malam, menegaskan bahwa nilai tukar yang ditampilkan di Google bukan angka yang benar.
“Level nilai tukar dollar AS ke rupiah yang berada di angka Rp 8.100-an sebagaimana yang ada di Google bukan merupakan level yang seharusnya,” ujar Ramdan Denny.
Untuk memahami situasi ini, mari kita lihat pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam sepekan terakhir. Menurut data dari Bank Indonesia, pada 31 Januari 2025, nilai tukar rupiah berada di level Rp 16.312.
Pergerakan Rupiah per 20-31 Januari 2025:
20 Januari 2025: Rp 16.372
21 Januari 2025: Rp 16.331
22 Januari 2025: Rp 16.327
23 Januari 2025: Rp 16.276
24 Januari 2025: Rp 16.200
30 Januari 2025: Rp 16.259
31 Januari 2025: Rp 16.312
Rupiah sempat menguat dari Rp 16.372 pada 20 Januari menjadi Rp 16.200 pada 24 Januari. Namun, pada 30 Januari, nilai tukar kembali melemah ke Rp 16.259, sebelum akhirnya ditutup pada Rp 16.312 pada 31 Januari.
Sementara itu, Google juga memberi klarifikasi terkait masalah tersebut. Perwakilan Google mengungkapkan bahwa masalah ini disebabkan oleh kesalahan data dari sumber pihak ketiga.
“Kami menyadari adanya masalah yang mempengaruhi informasi nilai tukar rupiah (IDR) di Google Search,” ujar perwakilan Google. Mereka menambahkan bahwa begitu mengetahui adanya ketidakakuratan tersebut, pihak Google langsung menghubungi penyedia data untuk memperbaiki kesalahan tersebut sesegera mungkin.
Klarifikasi ini memberi penjelasan bahwa masalah ini lebih terkait pada sumber eksternal yang memberikan data konversi mata uang, dan tidak berasal dari Google secara langsung.





