Psikolog klinis Rini Hapsari Santosa memberikan analisis mendalam mengenai maraknya tawuran di Jakarta. Menurutnya, fenomena ini bukan sekadar luapan emosi remaja semata, melainkan lebih kompleks dan berakar pada berbagai faktor sosial dan psikologis. Perilaku ini perlu dipahami secara menyeluruh untuk menemukan solusi efektif.
Tawuran bukanlah sekadar pelampiasan emosi. Motivasi di baliknya jauh lebih rumit dan melibatkan pencarian identitas serta pengakuan sosial. Remaja, khususnya di lingkungan yang akrab dengan tawuran, cenderung meniru perilaku tersebut untuk merasa diterima dan diakui oleh teman sebayanya.
Motif Tawuran: Pencarian Identitas dan Pengakuan
Rini menjelaskan bahwa di usia remaja, penerimaan dari lingkungan sebaya sangat penting. Jika lingkungan sekolah atau sekitar tempat tinggal kerap terjadi tawuran, remaja mungkin merasa terdorong untuk menyesuaikan diri (konformitas) dan ikut terlibat.
Keinginan untuk diterima dalam kelompok juga menjadi faktor utama. Tawuran seringkali menjadi simbol loyalitas dan eksistensi kelompok, sehingga keterlibatan di dalamnya bisa diartikan sebagai tiket untuk bergabung.
Kelompok-kelompok dalam tawuran menciptakan rasa memiliki (sense of belonging) yang kuat. Identitas remaja kerap terikat dengan kelompoknya, baik itu berdasarkan nama sekolah, geng, atau afiliasi lainnya. Merasa diterima dan menjadi bagian dari kelompok sangat penting bagi remaja pada tahap perkembangan ini.
Peran Negatif Lingkungan dan Teknologi
Ketidakhadiran bimbingan orang dewasa menjadi faktor krusial yang memperburuk situasi. Pengaruh teman sebaya sangat besar dalam membentuk persepsi remaja terhadap kekerasan.
Jika kekerasan menjadi hal biasa dalam lingkungan sosial, maka hal tersebut akan dianggap normal bahkan keren oleh para remaja.
Perkembangan teknologi digital memperluas jangkauan perilaku ini. Aksi tawuran tak hanya terjadi secara tertutup, tetapi juga direkam, dibagikan, bahkan dipamerkan di media sosial.
Media sosial berfungsi sebagai sarana dokumentasi, penyebaran, dan pencarian pengakuan. Parahnya, konten kekerasan yang viral dapat menarik perhatian dan bahkan menjadi semacam “tren” bagi remaja lainnya.
Pentingnya Pendekatan Preventif dan Peran Orang Dewasa
Pendekatan preventif sangat penting dalam menangani masalah ini. Remaja memiliki energi yang besar, dan jika tidak diarahkan ke hal yang positif, energi ini dapat memicu perilaku negatif.
Kegiatan positif seperti ekstrakurikuler, olahraga, kegiatan seni, dan organisasi dapat memberikan remaja tujuan dan makna dalam kehidupan sehari-hari.
Peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sangat krusial dalam menciptakan ruang aman bagi remaja. Minimnya bimbingan, banyaknya waktu luang, dan akses informasi yang tidak terkontrol meningkatkan risiko paparan pada kekerasan.
Remaja masih membutuhkan bimbingan orang dewasa karena perkembangan otak mereka belum sepenuhnya matang. Kegiatan positif yang dilakukan secara kolektif di sekolah atau lingkungan dapat membantu menciptakan komunitas yang mendukung dan mengurangi risiko terlibat dalam tawuran.
Perlu adanya kolaborasi antara orangtua, guru, dan tokoh masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang kondusif dan memberikan arahan positif kepada remaja. Dengan demikian, energi besar mereka dapat tersalurkan dengan baik dan mencegah terjadinya tawuran.





