Bank Jakarta, sebelumnya dikenal sebagai Bank DKI, mencatatkan kinerja positif di tengah tantangan ekonomi. Meskipun kondisi perekonomian sedang tertekan, bank ini tetap membukukan laba bersih yang signifikan.
Hingga akhir Mei 2025, Bank Jakarta berhasil meraih laba bersih sebesar Rp 367 miliar, meningkat 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, optimistis kinerja positif ini akan berlanjut.
Laba Bersih Bank Jakarta Tembus Rp 400 Miliar di Semester I 2025?
Agus H. Widodo memprediksi laba bersih Bank Jakarta akan melampaui angka Rp 400 miliar pada semester pertama tahun 2025. Angka ini akan jauh melampaui laba bersih semester I 2024 yang sebesar Rp 338,53 miliar.
Optimisme ini didasari pada kinerja positif yang telah ditunjukkan Bank Jakarta hingga Mei 2025. Namun, Agus tetap berhati-hati dan menekankan bahwa prediksi tersebut masih berupa perkiraan.
Strategi Bank Jakarta dalam Menjaga Likuiditas dan Memperkuat Aset
Di tengah kondisi likuiditas perbankan nasional yang mengetat akibat perlambatan ekonomi, Bank Jakarta fokus menjaga likuiditas dan memperkuat asetnya. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipatif menghadapi tantangan ekonomi.
Meskipun Bank Indonesia menyatakan likuiditas perbankan masih memadai, Bank Jakarta tetap memprioritaskan pengelolaan likuiditas yang prudent. Prioritas lainnya adalah perbaikan kualitas aset agar tetap terjaga.
Salah satu strategi yang dijalankan adalah kehati-hatian dalam penyaluran kredit. Tujuannya adalah untuk menjaga rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tetap rendah, di bawah 3 persen dari total kredit.
Bank Jakarta juga berkomitmen untuk mendukung debiturnya agar tetap dapat menjalankan bisnisnya dengan baik. Hal ini penting mengingat kondisi ekonomi yang berat saat ini.
Rebranding Bank DKI Menjadi Bank Jakarta dan Rencana IPO
Perubahan nama dari Bank DKI menjadi Bank Jakarta merupakan bagian dari strategi rebranding yang lebih luas. Perubahan ini meliputi nama panggilan (call name), logo, dan keseluruhan citra perusahaan.
Rebranding ini bertujuan untuk meningkatkan relevansi Bank Jakarta dengan kondisi terkini dan memperkuat posisi di pasar. Langkah ini juga merupakan bagian dari persiapan menuju penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO).
Bank Jakarta menargetkan IPO pada awal tahun 2026 dengan harapan dapat memperoleh dana segar sekitar Rp 3 triliun. Dana tersebut akan digunakan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas Bank Jakarta.
Kinerja positif Bank Jakarta di tengah kondisi ekonomi yang menantang menunjukkan strategi manajemen yang efektif. Fokus pada pengelolaan likuiditas, peningkatan kualitas aset, dan rebranding yang tepat sasaran menjadi kunci keberhasilan Bank Jakarta. Keberhasilan ini sekaligus menandai langkah percaya diri Bank Jakarta dalam menatap masa depan, termasuk rencana IPO yang akan semakin memperkuat posisinya di industri perbankan nasional.





