Bank Indonesia (BI) kembali membuka peluang penurunan suku bunga acuan (BI Rate). Keputusan ini, meski telah dua kali dilakukan pada Januari dan Mei 2025 (masing-masing 25 basis poin), tetap akan mempertimbangkan berbagai faktor krusial. Inflasi, nilai tukar rupiah, dan kondisi ekonomi global akan menjadi penentu utama.
BI mempertahankan BI Rate di level 5,50 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2025. Namun, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa potensi penurunan tetap terbuka di masa mendatang.
BI Terbuka pada Kemungkinan Penurunan BI Rate
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa penurunan BI Rate masih menjadi opsi jika diperlukan untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Hal ini disampaikan dalam konferensi pers Kamis (19/6/2025).
Namun, penurunan tersebut harus dilakukan pada waktu yang tepat dan dengan pertimbangan matang. Stabilitas ekonomi makro tetap menjadi prioritas utama.
Keputusan ini tidak hanya bergantung pada perkembangan ekonomi domestik, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global. Kondisi global yang bergejolak dapat memengaruhi keputusan BI.
Pertimbangan Komprehensif di Balik Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter BI tak hanya berfokus pada BI Rate. BI juga aktif mengelola likuiditas melalui berbagai instrumen operasi moneter.
Langkah ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan kredit perbankan dan pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Digitalisasi juga menjadi bagian penting dari strategi ini.
Selain penurunan suku bunga acuan, BI juga berupaya meningkatkan likuiditas dan memberikan insentif untuk mendorong kredit perbankan. Kerja sama dengan pemerintah juga terus dijalin untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Pentingnya Transmisi Kebijakan Moneter
BI berharap penurunan BI Rate sebelumnya segera ditransmisikan oleh perbankan melalui penurunan suku bunga kredit. Tujuannya adalah agar dampak penurunan BI Rate segera terasa pada pertumbuhan ekonomi.
Meskipun suku bunga perbankan sudah mulai menurun, penurunannya masih terbatas. BI terus mendorong agar penurunan tersebut lebih signifikan.
Dampak Penurunan Suku Bunga dan Langkah ke Depan
Pada Mei 2025, suku bunga kredit nasional turun sedikit, dari 9,19 persen menjadi 9,18 persen. Suku bunga deposito satu bulan juga turun dari 4,83 persen menjadi 4,81 persen.
BI mengajak perbankan dan dunia keuangan untuk bersinergi dalam mendorong pertumbuhan kredit dan ekonomi. Kerjasama dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas makro ekonomi juga terus ditingkatkan.
Ke depan, BI akan terus memantau perkembangan inflasi, nilai tukar rupiah, dan kondisi global untuk menentukan langkah selanjutnya terkait BI Rate. Prioritas utama tetap menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Kesimpulannya, kebijakan BI terkait BI Rate merupakan langkah yang terukur dan komprehensif, mempertimbangkan berbagai faktor internal dan eksternal untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan stabil. Transmisi kebijakan moneter kepada sektor riil menjadi kunci keberhasilan strategi ini.





