Bank Indonesia (BI) dan The Federal Reserve (The Fed) kompak mempertahankan suku bunga acuan masing-masing. Keputusan ini diambil di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi, mencerminkan sikap hati-hati kedua otoritas moneter dalam merespon dinamika global yang penuh risiko. BI mempertahankan BI rate di level 5,5 persen, sementara The Fed mempertahankan Fed Funds Rate (FFR) di kisaran 4,25-4,5 persen.
Sikap Hati-Hati di Tengah Ketidakpastian Global
Langkah BI dan The Fed mempertahankan suku bunga acuan dinilai sebagai strategi “bermain aman”. Kedua bank sentral menghadapi dilema: menaikkan suku bunga berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi, sementara menurunkannya dapat memicu pelemahan nilai tukar.
Potensi inflasi akibat perang tarif dan konflik di Timur Tengah semakin menambah kompleksitas situasi. Inflasi yang tinggi mendorong kenaikan suku bunga untuk menjinakkannya, namun hal ini berisiko memperburuk ekonomi yang masih rapuh. Sebaliknya, menurunkan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi justru berpotensi melemahkan nilai tukar mata uang.
Mohammad Faisal dari Center of Reform on Economic (CORE) menekankan perlunya kehati-hatian dalam situasi ini. Tekanan dari berbagai sisi memaksa otoritas moneter untuk bersikap sangat berhati-hati dalam menggerakkan suku bunga, baik naik maupun turun.
Dampak Terhadap Ekonomi Indonesia
Keputusan The Fed mencerminkan kewaspadaan terhadap ketidakpastian ekonomi global. Hal senada juga ditunjukkan BI, yang memperhatikan tantangan eksternal, terutama ketidakpastian kebijakan moneter global dan tensi geopolitik.
BI berupaya menjaga daya tarik investasi domestik dengan mempertahankan spread suku bunga yang atraktif dibandingkan suku bunga global, terutama The Fed. Ini penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang rentan terhadap perubahan kebijakan moneter global.
Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank, menilai sinergi kebijakan moneter The Fed dan BI akan memberikan kestabilan bagi ekonomi Indonesia. Namun, tantangan tetap ada, terutama risiko eksternal seperti ketegangan geopolitik dan dinamika perdagangan internasional.
Prospek Ke Depan dan Pengelolaan Kebijakan Moneter
Baik The Fed maupun BI diperkirakan akan melanjutkan sikap kehati-hatiannya ke depan. Pengelolaan kebijakan moneter domestik yang cermat tetap krusial untuk menyeimbangkan antara mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas makroekonomi.
Tantangan eksternal, seperti ketegangan geopolitik dan dinamika perdagangan internasional yang fluktuatif, akan terus menjadi faktor penentu dalam pengambilan keputusan kebijakan moneter. Oleh karena itu, respons yang adaptif dan berhati-hati akan sangat menentukan keberhasilan menjaga stabilitas ekonomi Indonesia.
Ke depan, kolaborasi dan koordinasi antar bank sentral global akan semakin penting dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Pemantauan yang ketat terhadap indikator ekonomi makro, baik domestik maupun internasional, akan menjadi kunci dalam menentukan langkah-langkah kebijakan moneter yang tepat dan efektif. Dengan demikian, stabilitas ekonomi makro dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dapat tetap terjaga.





