Raksasa keuangan global, BlackRock, dikabarkan telah melakukan investasi signifikan di Ethereum (ETH), aset kripto terbesar kedua setelah Bitcoin. Informasi ini beredar setelah perusahaan analisis blockchain, Arkham, memposting di X (sebelumnya Twitter) tentang pembelian ETH senilai USD 50 juta, atau setara dengan Rp 815 miliar (berdasarkan kurs Rp 16.301 per USD pada 5 Juni 2025).
Laporan ini memicu spekulasi dan diskusi luas di kalangan investor dan pengamat pasar kripto. Besarnya nilai investasi ini menunjukkan kepercayaan BlackRock terhadap potensi pertumbuhan Ethereum di masa depan.
Investasi BlackRock di Ethereum: Angka dan Implikasi
Arkham Intelligence, dalam postingannya di X, menampilkan grafik dan data yang menunjukkan peningkatan konsisten saldo dan keuntungan Ethereum milik BlackRock. Hal ini mengindikasikan bahwa investasi tersebut merupakan bagian dari strategi investasi jangka panjang yang lebih besar.
Data dari Coinbase Prime lebih detail, mencatat beberapa transaksi pembelian oleh BlackRock, dengan jumlah ETH yang bervariasi antara 9.000 hingga lebih dari 58.000 ETH. Nilai total transaksi tersebut diperkirakan berkisar antara USD 23 juta hingga USD 61 juta.
Investasi besar-besaran ini menunjukkan minat yang semakin meningkat dari institusi keuangan besar terhadap aset kripto. Langkah BlackRock ini bisa menjadi katalis bagi perusahaan lain untuk mempertimbangkan investasi serupa di pasar kripto.
Pandangan BlackRock Terhadap Bitcoin dan Emas
Sebelumnya, seorang Direktur Pelaksana BlackRock menyatakan bahwa Bitcoin memiliki keunggulan dibandingkan emas sebagai aset investasi jangka panjang. Meskipun keduanya sering digunakan sebagai instrumen lindung nilai (hedging), Bitcoin dinilai lebih modern dan efisien.
Keunggulan Bitcoin, menurut eksekutif BlackRock, terletak pada efisiensi penyimpanan, transfer global yang hampir instan, dan biaya transaksi yang mendekati nol. Hal ini menjadikan Bitcoin sebagai aset yang lebih praktis dibandingkan emas.
Meskipun begitu, BlackRock tidak menganggap Bitcoin dan emas sebagai kompetitor. Banyak investor institusi sekarang menggabungkan keduanya dalam portofolio mereka, melihatnya sebagai cara diversifikasi investasi dan strategi lindung nilai.
Emas dan Bitcoin: Kesamaan dan Perbedaan
Emas dan Bitcoin memiliki kesamaan sebagai aset investasi, yakni bersifat global, terbatas jumlahnya, terdesentralisasi, dan tidak bergantung pada sistem keuangan terpusat.
Namun, Bitcoin memiliki keunggulan karena bersifat digital. Hal ini membuatnya lebih mudah disimpan, dipindahkan, dan digunakan secara global, tanpa kendala logistik fisik seperti emas.
Meskipun demikian, kekuatan intrinsik baik emas maupun Bitcoin sebagai aset lindung nilai tetap diakui. Keunggulan masing-masing aset ini mendorong beberapa investor untuk menggabungkan keduanya dalam portofolio investasi.
Sebagai contoh, beberapa investor mengalokasikan 80% portofolio mereka pada emas dan sisanya pada Bitcoin, atau bahkan porsi yang seimbang 50:50. Strategi ini mencerminkan pandangan bahwa Bitcoin dan emas bukan saingan, melainkan aset pelengkap yang saling menguatkan.
Kesimpulannya, investasi BlackRock di Ethereum, dibarengi dengan pernyataan eksekutif BlackRock mengenai Bitcoin dan emas, menunjukkan pergeseran signifikan dalam persepsi investor institusi terhadap aset kripto. Bukan lagi sekadar aset spekulatif, kripto mulai dianggap sebagai bagian integral dari strategi investasi yang lebih beragam dan modern. Tren ini diperkirakan akan terus berkembang seiring dengan matangnya ekosistem kripto dan regulasi yang lebih jelas.





