Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dikabarkan tengah menjajaki investasi di GoTo, di tengah isu merger perusahaan tersebut dengan Grab. Kabar ini muncul dari Bloomberg, yang melaporkan bahwa Danantara telah melakukan diskusi awal dengan GoTo terkait akuisisi saham minoritas jika merger benar-benar terjadi.
Langkah ini diduga bertujuan meredakan kekhawatiran pemerintah Indonesia atas potensi dominasi asing jika GoTo, perusahaan teknologi besar di Asia, bergabung dengan Grab, perusahaan asal Singapura. Pemerintah berharap dengan kepemilikan saham oleh Danantara, kepentingan nasional tetap terjaga.
Minat Danantara di Tengah Isu Merger GoTo dan Grab
Kabar merger GoTo dan Grab memang masih menjadi perbincangan hangat. Potensi penggabungan dua raksasa layanan on-demand ini memicu berbagai spekulasi dan analisis.
Danantara, yang memiliki hubungan dengan pemerintah, dikabarkan tertarik untuk mengamankan sebagian kepemilikan di GoTo. Hal ini diyakini sebagai upaya untuk menyeimbangkan pengaruh asing dalam sektor teknologi Indonesia.
Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari Danantara terkait kabar tersebut. Kejelasan mengenai investasi ini masih dinantikan publik dan pelaku pasar.
Potensi Dominasi Asing dan Pertimbangan Pemerintah
Ekonom Senior Bright Institute, Awalil Rizky, menekankan pentingnya menjaga iklim investasi dalam negeri dan mendukung perusahaan lokal. Ia menilai, merger GoTo dan Grab perlu dikaji lebih lanjut mengingat Grab merupakan perusahaan asing.
Potensi merger ini menimbulkan kekhawatiran akan peningkatan dominasi asing di pasar teknologi Indonesia. Hal ini berpotensi merugikan pelaku usaha domestik dan perlu diantisipasi pemerintah.
Pemerintah, melalui Danantara, tampaknya berupaya mencegah dominasi asing tersebut dengan mempertimbangkan untuk memiliki kepemilikan di GoTo.
Respon Grab Indonesia dan Fokus pada Perekonomian Lokal
Grab Indonesia sendiri enggan berkomentar banyak mengenai isu merger. Mereka menyatakan fokus pada pemberdayaan ekonomi kecil dan membuka peluang kerja bagi masyarakat Indonesia.
Tirza Munusamy, Chief of Public Affairs Grab Indonesia, menjelaskan bahwa spekulasi merger tidak didasari informasi terverifikasi. Ia juga menegaskan komitmen Grab dalam memberdayakan ekonomi lokal.
Meskipun Grab beroperasi sebagai Penanaman Modal Asing (PMA), Tirza menekankan bahwa perusahaan tersebut hampir seluruhnya dijalankan oleh tenaga kerja lokal. Hal ini menunjukkan kontribusi Grab terhadap perekonomian Indonesia.
Dari 99 persen karyawan Grab Indonesia adalah Warga Negara Indonesia (WNI), hanya satu orang manajemen yang merupakan Warga Negara Asing (WNA).
Kejelasan mengenai investasi Danantara di GoTo dan dampak merger GoTo dan Grab terhadap perekonomian Indonesia masih perlu ditunggu. Pemerintah dan pihak terkait terus memonitor perkembangan situasi ini untuk menjaga keseimbangan dan menciptakan iklim investasi yang sehat.





