Badan Pangan Nasional (Bapanas) kembali merilis Harga Eceran Tertinggi (HET) beras di seluruh Indonesia pada awal Juni 2024. Data ini bertujuan untuk mengendalikan fluktuasi harga, terutama di tengah tantangan perubahan iklim dan dinamika pasar global. Pembaruan HET ini mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk harga agroinput yang berpengaruh signifikan terhadap biaya produksi beras.
Penetapan HET beras terbaru ini merupakan langkah penting Bapanas untuk menjaga stabilitas harga pangan dan melindungi daya beli masyarakat. Informasi mengenai HET di setiap wilayah diharapkan dapat memberikan transparansi dan membantu konsumen dalam mengambil keputusan. Berikut rincian HET beras terbaru di Indonesia, dibagi berdasarkan kategori harga.
HET Beras Terendah di Indonesia
Wilayah dengan HET beras terendah tersebar di beberapa pulau di Indonesia. Di Pulau Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi, harga beras medium rata-rata Rp12.500 per kilogram.
Harga beras premium di wilayah-wilayah tersebut sedikit lebih tinggi, yaitu sekitar Rp14.900 per kilogram. Ketersediaan pasokan beras yang memadai dan efisiensi distribusi menjadi beberapa faktor yang berkontribusi pada harga beras yang relatif rendah di daerah ini.
HET Beras Sedang di Indonesia
Sebagian besar wilayah Indonesia masuk dalam kategori HET sedang. Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Bengkulu, Riau, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Timur termasuk dalam kategori ini.
Harga beras medium di wilayah-wilayah ini tercatat rata-rata Rp13.100 per kilogram, sementara beras premium berada di angka Rp15.400 per kilogram. Kondisi geografis, aksesibilitas, dan tingkat permintaan menjadi faktor penentu harga beras di kategori sedang ini.
HET Beras Tertinggi di Indonesia
Hanya dua provinsi yang masuk dalam kategori HET beras tertinggi di Indonesia: Maluku dan Papua. Di kedua provinsi ini, harga beras medium mencapai Rp13.500 per kilogram, sedangkan beras premium lebih mahal, yaitu Rp15.800 per kilogram.
Tingginya biaya transportasi dan logistik, serta keterbatasan infrastruktur, menjadi penyebab utama harga beras yang lebih tinggi di Maluku dan Papua. Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan aksesibilitas dan efisiensi distribusi pangan di wilayah-wilayah terpencil ini.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan harga beras antar-wilayah cukup kompleks. Selain faktor geografis dan logistik, juga mencakup tingkat produktivitas pertanian, permintaan pasar lokal, dan kebijakan pemerintah daerah terkait distribusi dan perdagangan beras.
Bapanas terus memantau dan melakukan evaluasi terhadap HET beras secara berkala. Tujuannya adalah agar harga beras tetap stabil dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat, meskipun tantangan perubahan iklim dan kondisi global masih terus berlangsung. Transparansi informasi dan upaya peningkatan efisiensi distribusi menjadi kunci dalam menjaga stabilitas harga pangan di Indonesia.





