Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan pada perdagangan pasar spot Rabu, 18 Juni 2025. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.08 WIB, rupiah berada di level Rp 16.309,5 per dolar AS, melemah 20 poin (0,12 persen) dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 16.289,5 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi di tengah gejolak global yang cukup kompleks. Konflik antara Iran dan Israel, serta intervensi AS di kawasan Timur Tengah, turut mempengaruhi pergerakan nilai tukar mata uang global.
Analisis Pelemahan Rupiah: Dampak Konflik dan Ekspektasi The Fed
Ariston Tjendra, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, menjelaskan bahwa indeks dolar AS pagi ini berada di level 98,77, naik dari 98,20 sehari sebelumnya. Kenaikan ini dipengaruhi oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.
Namun, pasar juga menanti hasil rapat moneter The Fed. Ekspektasi pasar cenderung mengarah pada kebijakan moneter yang lebih longgar (dovish).
Kondisi ekonomi AS yang tengah tertekan menjadi alasan utama ekspektasi tersebut. Jika The Fed memang mengambil langkah pelonggaran moneter, dolar AS berpotensi melemah.
Hal ini, menurut Ariston, dapat membatasi penguatan dolar AS terhadap rupiah. Oleh karena itu, pelemahan rupiah diperkirakan tidak akan terlalu signifikan.
Ariston memprediksi potensi pelemahan rupiah hingga Rp 16.300 per dolar AS, dengan support di kisaran Rp 16.250.
Kurs Rupiah di Berbagai Bank Besar Indonesia
Kurs tengah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada Selasa, 17 Juni 2025, mencatat rupiah di level Rp 16.281 per dolar AS. Ini merupakan penguatan dibandingkan hari Senin, 16 Juni 2025, yang berada di Rp 16.296 per dolar AS.
Berikut kurs jual (harga jual dolar AS oleh bank) di beberapa bank besar di Indonesia:
- BRI: Jual Rp 16.347, Beli Rp 16.247
- Bank Mandiri: Jual Rp 16.320, Beli Rp 16.290
- BNI: Jual Rp 16.360, Beli Rp 16.210
- BCA: Jual Rp 16.325, Beli Rp 16.305
- CIMB Niaga: Jual Rp 16.301, Beli Rp 16.276
Perlu diingat bahwa kurs jual dan beli di atas dapat berubah sewaktu-waktu.
Outlook Nilai Tukar Rupiah: Faktor-Faktor yang Perlu Diperhatikan
Ke depan, pergerakan nilai tukar rupiah akan tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik domestik maupun global.
Selain perkembangan konflik Timur Tengah dan kebijakan moneter The Fed, faktor-faktor ekonomi domestik seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan neraca perdagangan juga akan berperan penting.
Para pelaku pasar perlu memonitor perkembangan tersebut secara cermat untuk mengantisipasi potensi volatilitas nilai tukar rupiah.
Penting untuk selalu memperbarui informasi dari sumber terpercaya untuk mendapatkan gambaran yang akurat tentang kondisi pasar.
Secara keseluruhan, meskipun terjadi pelemahan ringan, rupiah menunjukkan resiliensi di tengah ketidakpastian global. Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada bagaimana konflik geopolitik dan kebijakan moneter global bergulir.





