Presiden Korea Selatan yang baru terpilih, Lee Jae-myung, tengah mendorong agenda pro-kripto yang signifikan. Kemenangannya pada 4 Juni 2025 dengan 49,42% suara menandai babak baru dalam regulasi aset kripto di negara yang memiliki basis investor kripto besar ini. Lee berjanji untuk merevisi kebijakan kripto yang sebelumnya diterapkan oleh pemerintahan pendahulunya. Hal ini memicu ekspektasi perubahan besar dalam lanskap kripto Korea Selatan.
Kripto, Isu Penentu dalam Pemilihan Presiden Korea Selatan
Pemilihan presiden di Korea Selatan yang lalu menjadi panggung persaingan antar kandidat yang memperebutkan dukungan dari basis investor kripto yang terus berkembang. Ketiga kandidat teratas, termasuk Lee Jae-myung, mengajukan proposal yang ramah terhadap kripto.
Proposal tersebut mencakup legalisasi Exchange Traded Funds (ETF) Bitcoin dan pelonggaran aturan perbankan yang membatasi perdagangan kripto hanya pada lima platform. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya isu kripto dalam menentukan arah politik negara tersebut.
Pemilihan yang berlangsung lebih cepat dari jadwal, dipicu pemakzulan mantan Presiden Yoon Suk-yeol, semakin menyoroti peran krusial kripto dalam perpolitikan Korea Selatan.
Agenda Reformasi Kripto Presiden Lee Jae-myung
Lee Jae-myung berencana mencabut larangan ETF kripto spot. Ini akan membuka peluang investasi baru bagi investor dan mendorong pertumbuhan pasar kripto di Korea Selatan.
Ia juga berencana memperkenalkan pasar stablecoin yang dipatok pada won Korea Selatan. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi arus keluar modal dan memperkuat stabilitas ekonomi.
Pemerintahan Lee juga akan meningkatkan regulasi kripto dengan fokus pada pengawasan stablecoin, transparansi bursa, dan pelonggaran pembatasan di zona pengembangan blockchain. Tujuannya adalah mendorong inovasi dan pertumbuhan sektor ini secara berkelanjutan.
Peningkatan Regulasi dan Inovasi Blockchain
Regulasi yang lebih ketat untuk stablecoin akan memprioritaskan perlindungan investor. Transparansi bursa akan meningkatkan kepercayaan pasar dan mengurangi risiko penipuan.
Pelonggaran pembatasan di zona pengembangan blockchain akan mendorong inovasi dan menarik investasi asing. Inisiatif ini diharapkan akan memperkuat posisi Korea Selatan sebagai pusat inovasi blockchain di tingkat global.
Debat Sengit Soal Stablecoin
Debat pemilihan presiden menyoroti perbedaan pendapat terkait stablecoin. Lee Jae-myung mengusulkan peluncuran stablecoin yang dipatok pada won Korea Selatan.
Namun, usulan ini menuai kritik dari kandidat lain, seperti Lee Jun-seok, yang mengingatkan akan kegagalan stablecoin algoritmik sebelumnya, TerraKRW. Ia mempertanyakan keamanan dan mekanisme pengelolaan risiko dari stablecoin yang diusulkan Lee Jae-myung.
Kedua kandidat berselisih paham soal pendekatan yang tepat. Lee Jae-myung menekankan keamanan stablecoin yang tersentralisasi dan didukung fiat, sementara kandidat lain menyoroti risiko dan perlunya kehati-hatian. Perdebatan ini mencerminkan kompleksitas regulasi kripto dan tantangan dalam menemukan keseimbangan antara inovasi dan perlindungan investor.
Lee Jae-myung, yang juga merupakan kandidat dalam pemilihan 2022, saat itu memprioritaskan kebijakan pro-kripto, meskipun tidak seintensif Yoon. Beberapa janji kampanye Yoon, seperti mencabut larangan permainan play-to-earn dan Initial Coin Offering (ICO), tidak terealisasi. Hal ini menunjukkan pentingnya implementasi kebijakan yang konsisten dan efektif.
Korea Selatan memiliki potensi besar sebagai pusat kripto global dengan sekitar 20% penduduknya terlibat dalam bursa kripto. Dengan kepemimpinan Lee Jae-myung yang pro-kripto, masa depan industri kripto di negara ini diproyeksikan akan mengalami perkembangan yang signifikan. Namun, penting bagi pemerintah untuk mengimbangi pertumbuhan ini dengan regulasi yang komprehensif dan efektif guna melindungi investor dan menjaga stabilitas pasar. Keberhasilan agenda ini akan sangat bergantung pada implementasi yang cermat dan antisipasi terhadap tantangan yang mungkin muncul.





