Mal Borobudur Plaza di Bekasi Timur, Jawa Barat, menjadi pemandangan yang menyedihkan. Bangunan megah itu nyaris tak bernyawa, hanya hidup setahun sekali menjelang Lebaran. Selebihnya, tempat tersebut terbengkalai dan menjadi tempat berteduh para pemulung dan pengamen.
Kondisi ini teramati langsung oleh tim detikcom pada Kamis, 19 Juni 2025. Beberapa pemulung dan pengamen terlihat berlindung dari gerimis di bawah atap mal yang luas.
Mal Borobudur Plaza: Sepi Sepanjang Tahun, Ramai Saat Lebaran
Pengamatan di lokasi menunjukkan betapa memprihatinkannya kondisi Mal Borobudur Plaza. Pemandangan pemulung dan pengamen yang berteduh di sana menggambarkan realita kehidupan mereka yang mencari perlindungan dari cuaca.
Salah satu pemulung terlihat duduk di dekat pintu masuk, karung putih besar bersandar di pilar mal. Di dekatnya, beberapa pengamen berteduh dengan gitar kecil mereka.
Suasana lengang ini kontras dengan beberapa kardus dan tali yang digunakan untuk menggantung pakaian, menandakan penggunaan area tersebut sebagai tempat tinggal sementara bagi sebagian orang.
Hanya Buka Sebulan Jelang Idul Fitri
Informasi yang didapat dari pedagang sekitar menyatakan bahwa mal ini hanya buka selama sebulan menjelang Idul Fitri. Hanya kios-kios di bagian depan yang beroperasi.
Pedagang tersebut menjelaskan bahwa hanya Borobudur Department Store yang membuka lapaknya, menjual pakaian. Ramai pengunjung pun hanya terjadi saat suasana Lebaran.
Kondisi ini jauh berbeda dengan sebelum pandemi. Mal Borobudur Plaza dulu ramai pengunjung dan berbagai toko beroperasi, termasuk supermarket Giant yang kini telah tutup permanen sejak 2021.
Nasib Mal Terbengkalai dan Kehidupan Para Penghuninya
Mal Borobudur Plaza yang terbengkalai menjadi tempat berlindung bagi mereka yang hidup di jalanan. Keberadaan pemulung yang terlihat lesu semakin mempertegas keadaan tersebut.
Kehidupan mereka yang terabaikan menjadi sorotan di tengah megahnya bangunan mal yang hanya hidup sesaat setiap tahunnya.
Bangunan yang seharusnya menjadi pusat aktivitas perekonomian justru menjadi simbol kemiskinan dan keputusasaan bagi sebagian warga.
Kondisi Mal Borobudur Plaza mencerminkan ironi perkembangan kota. Bangunan megah yang seharusnya menjadi pusat kegiatan ekonomi justru menjadi tempat berlindung bagi mereka yang hidup di pinggiran. Kehidupan para pemulung dan pengamen yang berteduh di sana menjadi gambaran nyata kesenjangan sosial yang perlu menjadi perhatian serius.





