Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) melaporkan angka penipuan keuangan yang mengkhawatirkan. Sejak awal beroperasi hingga akhir Mei 2025, IASC telah menerima 135.397 laporan penipuan, dengan total kerugian mencapai Rp 2,6 triliun. Angka ini menjadi sorotan penting bagi keamanan transaksi keuangan di Indonesia.
Jumlah laporan yang fantastis ini menunjukkan betapa maraknya penipuan keuangan di Indonesia. Situasi ini memerlukan tindakan preventif dan represif yang lebih intensif.
Lonjakan Laporan Penipuan Keuangan di IASC
Hudiyanto dari Sekretariat Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal menyampaikan data mengejutkan. Total rekening terkait penipuan yang dilaporkan mencapai 219.168.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 49.316 rekening (22,5 persen) berhasil diblokir. Meskipun demikian, Rp 163,3 miliar (6,28 persen) dari total kerugian Rp 2,6 triliun berhasil diselamatkan.
Modus Penipuan yang Semakin Canggih
Modus penipuan yang dilaporkan beragam, namun sebagian besar dilakukan secara digital.
Platform seperti WhatsApp, Instagram, Telegram, TikTok, SMS, email, dan website menjadi sasaran utama para penipu. Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam melancarkan aksi penipuan juga semakin meningkat.
Kecepatan hilangnya dana korban menjadi perhatian serius. IASC menekankan pentingnya laporan cepat dari korban agar upaya penyelamatan dana dapat dilakukan secara efektif.
Peran IASC dan Himbauan Kepada Masyarakat
IASC didirikan oleh OJK bersama Satgas PASTI, didukung oleh asosiasi industri perbankan, sistem pembayaran, dan e-commerce.
Lembaga ini bertujuan menangani penipuan transaksi keuangan dengan cepat dan memberikan efek jera. IASC juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengenali modus-modus penipuan yang semakin beragam dan canggih.
Peningkatan literasi digital dan kewaspadaan masyarakat sangat krusial dalam mencegah kerugian lebih lanjut. Pemerintah dan lembaga terkait harus terus meningkatkan upaya edukasi dan penegakan hukum.
Kecepatan pelaporan korban kepada IASC sangat penting untuk memaksimalkan peluang penyelamatan dana. Semakin cepat laporan, semakin besar kemungkinan untuk menyelamatkan sisa dana korban penipuan.
Perkembangan teknologi digital yang pesat membawa kemudahan, tetapi juga meningkatkan potensi penipuan. Masyarakat perlu mewaspadai modus-modus baru dan selalu mengupdate pengetahuan tentang keamanan transaksi keuangan.
Peran serta seluruh pihak, mulai dari pemerintah, lembaga keuangan, hingga masyarakat sendiri, sangat dibutuhkan untuk menciptakan ekosistem keuangan yang aman dan terpercaya.
Data yang disampaikan IASC menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan tentang maraknya penipuan keuangan di Indonesia. Namun, upaya pencegahan dan penindakan yang berkelanjutan diharapkan dapat menekan angka penipuan dan melindungi masyarakat dari kerugian finansial.





