Inklusi keuangan menjadi kunci utama dalam pemerataan akses layanan dan produk keuangan bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Kecepatan, kemudahan, dan keamanan menjadi tiga faktor krusial yang perlu dipenuhi.
Perusahaan jasa keuangan, terutama fintech, mengambil peran penting dalam upaya ini. Salah satunya adalah Easycash, yang memanfaatkan teknologi mutakhir untuk menjangkau masyarakat yang belum terlayani.
Teknologi AI Dorong Inklusi Keuangan
Easycash, melalui platform pinjaman daring (pindai) bernama Pindar, memanfaatkan teknologi big data, machine learning, dan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan inklusi keuangan.
Direktur Utama Easycash, Nucky Poedjiardjo Djatmiko, menjelaskan bahwa AI memungkinkan Pindar menjangkau masyarakat yang sebelumnya sama sekali tidak memiliki akses keuangan.
Proses e-KYC yang cepat dan mudah berkat teknologi AI menjadi keunggulan Pindar. Proses pengajuan dan pencairan dana pun bisa dilakukan dalam hitungan menit.
Kemudahan akses ini semakin diminati generasi Z dan Milenial yang melek digital, mendorong peningkatan pengguna layanan Pindar.
Pertumbuhan Industri Pinjaman Daring di Indonesia
Data World Bank tahun 2021 menunjukkan masih ada sekitar 100 juta orang di Indonesia yang belum memiliki akses keuangan memadai.
Akses ini tidak hanya terbatas pada rekening bank, tetapi juga mencakup layanan perbankan digital seperti pinjaman daring.
Pertumbuhan industri pinjaman daring di Indonesia sangat positif. OJK mencatat outstanding pendanaan per Februari 2025 mencapai Rp 80,07 triliun, tumbuh 31,06% secara tahunan.
Angka ini merefleksikan tingginya kebutuhan masyarakat akan layanan keuangan digital yang cepat, aman, dan mudah diakses, terutama bagi mereka yang belum terlayani oleh lembaga keuangan konvensional.
Komitmen Easycash terhadap Inklusi Keuangan
Easycash berkomitmen untuk terus melakukan edukasi literasi keuangan dan memperkuat manajemen risiko serta tata kelola perusahaan yang baik (GCG).
Kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan di industri juga menjadi fokus Easycash untuk membangun ekosistem keuangan yang inklusif dan berkelanjutan.
Sejak 2017 hingga April 2025, Easycash telah menyalurkan total pinjaman akumulatif sebesar Rp 70,64 triliun kepada 7.809.382 penerima dana.
Pertumbuhan ini diimbangi dengan komitmen terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Tantangan dan Peluang di Masa Depan
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 menunjukkan tingkat inklusi keuangan Indonesia sebesar 75,02%, sementara indeks literasi keuangan mencapai 65,43%.
Masih terdapat ruang yang besar untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di Indonesia.
Riset EY MSME Market Study and Policy Advocacy memperkirakan Indonesia memiliki kesenjangan pendanaan (credit gap) sekitar Rp 2.400 triliun, dengan pinjaman daring baru memenuhi sekitar 5%.
Ini menunjukkan potensi besar bagi pertumbuhan industri pinjaman daring di masa mendatang.
Dalam tujuh tahun terakhir, pinjaman daring telah mengubah budaya meminjam di Indonesia, dari terbatas pada keluarga dan lembaga konvensional menjadi lebih beragam dan digital.
Layanan seperti Buy Now Pay Later (BNPL) dan pinjaman daring semakin mudah diakses masyarakat.
Tren ini juga terlihat secara global. Contohnya di Brasil, dengan pertumbuhan pesat perusahaan pinjaman digital seperti Nubank. Fintopia, induk perusahaan Easycash, juga beroperasi di beberapa negara lain.
Meskipun regulasi bunga berbeda di setiap negara, manajemen risiko yang akurat tetap menjadi kunci penentu tingkat bunga.
PT CRIF Lembaga Informasi Keuangan (CLIK) menekankan pentingnya menjaga reputasi keuangan pribadi melalui riwayat kredit yang baik.
Credit scoring kini tak hanya penting untuk akses pinjaman, tetapi juga untuk seleksi kerja, kepemilikan aset, dan layanan digital lainnya.
CLIK menghimbau masyarakat untuk memahami data kredit dan bagaimana riwayat pembayaran yang baik dapat membuka peluang di masa depan.
Dengan sistem penilaian kredit yang akurat dan bertanggung jawab, ekosistem keuangan digital yang lebih sehat dapat tercipta.
Kesimpulannya, peningkatan inklusi keuangan di Indonesia memerlukan kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan teknologi. Perkembangan industri pinjaman daring seperti yang dilakukan Easycash menunjukkan potensi besar dalam pemerataan akses keuangan bagi seluruh lapisan masyarakat, namun tetap perlu diimbangi dengan edukasi dan manajemen risiko yang baik.





