Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan melemah pada perdagangan hari ini, Rabu (11/6/2025). Tekanan ini muncul di tengah optimisme investor terhadap hasil perundingan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China. Meskipun pembicaraan belum menghasilkan terobosan signifikan, pernyataan optimisme dari pejabat AS turut mempengaruhi sentimen pasar.
Optimisme tersebut mengakibatkan indeks dolar AS menguat tipis. Kondisi ini berdampak pada pergerakan rupiah yang diperkirakan akan berada dalam tekanan. Hal ini diungkapkan oleh Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede.
Pergerakan Rupiah dan Faktor Pengaruhnya
Pada perdagangan Selasa (10/6/2025), rupiah ditutup menguat tipis 0,01 persen ke level 16.273 per dolar AS, bergerak dalam kisaran 16.268-16.284. Penguatan ini didukung oleh data cadangan devisa Indonesia yang stabil di angka 152,5 miliar dolar AS pada akhir Mei 2025. Namun, Penguatan ini terbatas karena sikap wait and see investor terkait perundingan AS-China.
Josua memprediksi pergerakan rupiah hari ini berada di kisaran 16.225-16.350 per dolar AS. Imbal hasil obligasi rupiah relatif stabil, sejalan dengan tren nilai tukar rupiah. Yield pada berbagai seri obligasi pun relatif tidak berubah.
Analisis Pasar dan Sentimen Investor
Volume perdagangan obligasi pemerintah pada Selasa tercatat 34,53 triliun dolar AS, lebih rendah dari sesi Kamis sebelumnya. Investor asing meningkatkan kepemilikan obligasi rupiah sebesar Rp 4,85 triliun pada 5 Juni 2025, menjadi Rp 928 triliun atau 14,56 persen dari total yang beredar. Pemerintah juga berhasil menerbitkan obligasi senilai Rp 10 triliun dari lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memiliki pandangan senada. Ia juga memperkirakan rupiah akan berkonsolidasi dengan kecenderungan melemah terbatas. Ia melihat penguatan dolar AS sebagai faktor utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah.
Prospek Nilai Tukar Rupiah ke Depan
Aliran modal asing ke pasar modal Indonesia masih menjadi penopang bagi rupiah. Namun, kekuatan dolar AS di minggu ini, yang dipengaruhi antisipasi trade talk AS-China, tetap menjadi perhatian. Lukman memprediksi pergerakan rupiah hari ini berada di kisaran 16.200-16.300.
Data Bloomberg pukul 09.09 WIB menunjukkan rupiah berada di level Rp 16.271,5 per dolar AS, menguat 3,5 poin (0,02 persen) dibanding penutupan sebelumnya. Kurs tengah Jisdor menempatkan nilai tukar rupiah di level Rp 16.276 per dolar AS pada Selasa.
Secara keseluruhan, nilai tukar rupiah saat ini menghadapi tantangan akibat sentimen global yang dipengaruhi oleh perundingan AS-China. Meskipun ada dukungan dari cadangan devisa dan aliran modal asing, optimisme terhadap hasil perundingan tersebut cenderung menekan nilai tukar rupiah. Pemantauan perkembangan perundingan dan sentimen pasar akan menjadi kunci untuk melihat pergerakan rupiah selanjutnya. Ketahanan ekonomi domestik dan kebijakan pemerintah juga akan berperan penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.





