Tingginya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi di Indonesia menjadi perhatian serius. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan lonjakan signifikan, dari 495.143 pengangguran lulusan universitas pada 2014 menjadi 842.378 orang pada Agustus 2024. Fenomena ini mendorong perguruan tinggi untuk meningkatkan *employability skills* mahasiswanya.
Meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi yang menganggur menunjukkan kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan industri. Gelar sarjana saja tidak lagi cukup menjamin kemudahan mendapatkan pekerjaan. Oleh karena itu, berbagai strategi perlu diimplementasikan untuk mengatasi masalah ini.
Kurikulum yang Sesuai Kebutuhan Industri
Universitas Indonesia (UI) memperhatikan masalah ini. Salah satu pendekatan yang diusung adalah penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan industri.
Guru Besar Tetap di Bidang Ilmu Akuntansi FEB UI, Ratna Wardhani, menekankan pentingnya kolaborasi antara kampus dan industri. Mahasiswa perlu dilibatkan secara aktif dalam proses ini.
UI juga berencana membangun platform internal. Platform ini akan menghubungkan mahasiswa FEB UI langsung dengan industri. Hal ini bertujuan agar mahasiswa UI bersaing di internal kampus, bukan dengan lulusan universitas lain.
Dengan platform ini, mahasiswa FEB UI akan memiliki kesempatan magang yang lebih terstruktur. Mereka pun akan memiliki akses ke peluang kerja yang lebih terarah.
Penguatan *Entrepreneurial Spirit* dan *Soft Skills*
Selain penyesuaian kurikulum, perlu ada penguatan *entrepreneurial spirit* dan *soft skills* mahasiswa.
Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Manajemen FEB UI, Ezni Balqiah, menyoroti rendahnya daya juang mahasiswa UI meskipun memiliki kecerdasan akademik yang tinggi.
Menurut Ezni, mahasiswa perlu didorong untuk berpartisipasi dalam kompetisi bisnis dan mengikuti program inkubator bisnis. Hal ini akan melatih jiwa kewirausahaan dan kemampuan beradaptasi di dunia kerja.
Penguatan *soft skills*, seperti kemampuan komunikasi dan kerja sama tim, juga sangat penting. Dosen perlu berperan aktif dalam pengembangan *soft skills* mahasiswa.
Ezni menambahkan, program magang jangka pendek pun bisa memberikan pengalaman berharga dan membangun jaringan (networking) yang luas.
Sinergi Kampus dan Dunia Kerja: Kunci Kesuksesan
Kesimpulannya, upaya meningkatkan *employability skills* mahasiswa membutuhkan strategi komprehensif.
Penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan industri, penguatan *entrepreneurial spirit* dan *soft skills*, serta pembuatan platform internal yang menghubungkan mahasiswa dengan dunia kerja merupakan langkah-langkah penting.
Dengan sinergi yang kuat antara perguruan tinggi dan industri, diharapkan dapat mengurangi angka pengangguran lulusan perguruan tinggi dan menciptakan lulusan yang siap menghadapi tantangan dunia kerja.
Peran dosen juga sangat krusial dalam membekali mahasiswa dengan keterampilan yang dibutuhkan. Mereka harus adaptif dan bersedia merubah metode pengajaran untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap bersaing.





