Tarif Trump: Ancaman serius, pengusaha minta solusi pemerintah

Redaksi

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelumnya menerapkan tarif impor 47% terhadap produk Indonesia. Namun, kebijakan tersebut ditunda selama 90 hari, dan saat ini tarif yang berlaku hanya 10%. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menekankan pentingnya optimisme dan sinergi dalam menghadapi tantangan ini, sembari pemerintah Indonesia terus bernegosiasi dengan AS.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan kebijakan tarif AS, Kadin Indonesia mendorong para pengusaha untuk tetap optimis. Proses negosiasi antara kedua negara terus berjalan.

Kadin Dorong Optimisme dan Sinergi Pengusaha

Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Bidang Pangan Kadin Indonesia, Mulyadi Jayabaya, mengajak pengusaha untuk tetap optimis menghadapi situasi ini. Ia menekankan pentingnya diskusi dan kerja sama dalam menghadapi tantangan tersebut.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Kelautan dan Perikanan Kadin Indonesia, Yugi Prayanto, menekankan peran aktif dunia usaha dalam negosiasi perdagangan internasional. Pengusaha perlu terlibat aktif dalam memberikan masukan.

Dampak Tarif dan Perlunya Perbaikan Data Perikanan

Yugi Prayanto mengungkapkan kekhawatiran akan dampak signifikan dari tarif tinggi, khususnya pada produk-produk kebutuhan dalam negeri. Contohnya, kenaikan tarif bisa membuat pengusaha kesulitan membeli udang impor.

Ia juga menyoroti pentingnya perbaikan data sektor perikanan. Pemerintah, bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan pemangku kepentingan terkait, sedang berupaya memperbaiki big data perikanan.

Perbaikan big data perikanan sangat penting untuk menghitung target pertumbuhan sektor secara akurat. Dengan data yang akurat, target pertumbuhan 8 persen dapat dihitung dengan baik.

Perbaikan data ini sejalan dengan tujuan menjadikan perikanan sebagai komoditas ekspor unggulan Indonesia. Hal ini akan berdampak positif bagi jutaan nelayan dan petambak.

AS, yang tidak memiliki swasembada perikanan, tetap membutuhkan pasokan dari Indonesia. Faktor penarik dan pendorong ini perlu diperhatikan dalam negosiasi.

Strategi Pemerintah Menghadapi Tantangan Tarif

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Tornanda Syaifullah, menyatakan pemerintah sedang menyiapkan solusi konkret dalam waktu 90 hari. Pemerintah berupaya mencari solusi terbaik untuk tetap menjaga daya saing produk perikanan Indonesia.

Waktu 90 hari ini akan dimanfaatkan untuk merombak sektor perikanan secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir. Penataan ulang ini bertujuan agar produk Indonesia tetap kompetitif.

Jika pasar AS tidak lagi memungkinkan karena tarif yang terlalu tinggi, Indonesia perlu mencari pasar alternatif, seperti Uni Emirat Arab, Asia Tenggara, atau Eropa.

Amerika Serikat merupakan pasar ekspor utama produk perikanan Indonesia pada tahun 2024, mencapai US$ 1,90 miliar atau 31,97% dari total ekspor. Negara tujuan ekspor selanjutnya adalah China, ASEAN, Jepang, dan Uni Eropa.

AS juga menjadi tujuan utama ekspor udang Indonesia, yaitu 63% dari total volume ekspor udang pada 2024 (214.575 ton). Jepang, China, ASEAN, Uni Eropa, Rusia, Taiwan, dan Korea menyusul sebagai tujuan ekspor udang.

Kesimpulannya, tantangan tarif impor dari AS menuntut kerjasama dan strategi yang komprehensif dari pemerintah dan pelaku usaha Indonesia. Perbaikan data dan diversifikasi pasar menjadi kunci keberhasilan menghadapi situasi ini dan mempertahankan sektor perikanan sebagai komoditas ekspor unggulan.

Also Read

Tags

Leave a Comment