Ketidakpastian ekonomi global kembali memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,25-4,50 persen, memicu kekhawatiran pasar dan berdampak pada pelemahan rupiah.
Meskipun The Fed memberi sinyal akan memangkas suku bunga dua kali tahun ini, pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, yang masih menyoroti tekanan inflasi yang kuat dan penurunan suku bunga yang lebih lambat, menciptakan sentimen hawkish yang tidak sesuai ekspektasi pasar.
The Fed Pertahankan Suku Bunga, Rupiah Tertekan
Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga acuan pada 19 Juni 2025, mengakibatkan penguatan dolar AS. Hal ini berdampak langsung pada pelemahan nilai tukar rupiah.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong memprediksi rupiah akan melemah terhadap dolar AS, dengan rentang perdagangan diperkirakan berada di kisaran Rp 16.250 hingga Rp 16.350 per dolar AS.
Data Bloomberg pada pukul 09.08 WIB menunjukkan rupiah berada di level Rp 16.367,6 per dolar AS, melemah 55 poin (0,34 persen) dibandingkan penutupan sebelumnya.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelemahan Rupiah
Selain keputusan The Fed, beberapa faktor lain turut berkontribusi pada pelemahan rupiah. Pernyataan The Fed yang kurang dovish dari ekspektasi pasar menjadi salah satu penyebab utamanya.
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menambahkan bahwa konflik Timur Tengah yang memanas dan turut campur tangan AS dalam menekan Iran juga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan ekonomi global.
Kenaikan harga minyak mentah sebesar 17 persen juga memperkuat potensi penguatan dolar AS terhadap mata uang lainnya, termasuk rupiah.
Ariston Tjendra memperkirakan potensi pelemahan rupiah hingga Rp 16.380, dengan support di sekitar Rp 16.300.
Prospek Rupiah ke Depan
Meskipun pada Rabu, 18 Juni 2025, nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS berdasarkan kurs tengah Jisdor (Rp 16.319 per dolar AS), dibandingkan dengan hari Selasa (Rp 16.281 per dolar AS), tekanan pelemahan tetap ada.
Perlu dipantau perkembangan situasi geopolitik dan ekonomi global lebih lanjut untuk memprediksi pergerakan rupiah ke depan. Respons pasar terhadap kebijakan moneter The Fed selanjutnya juga akan menjadi faktor penentu.
Secara keseluruhan, pelemahan rupiah saat ini mencerminkan kompleksitas faktor global yang saling terkait, menuntut kewaspadaan dan antisipasi dari para pelaku pasar.
Ketidakpastian ekonomi global, dikombinasikan dengan kebijakan moneter The Fed dan sentimen pasar, akan terus membentuk dinamika nilai tukar rupiah dalam waktu dekat.





